Kamis, 03 Juni 2010
AKU TAMPAK LEBIH MANIS
DENGAN SENYUMAN
Tahukah engkau wahai sahabatku? Bahwa senyum adalah terapi paling ideal untuk kecantikan. Kamu akan tampak lebih manis dengan sedikit tarikan tulus dari bibirmu. Senyum yang tulus merupakan “make up” paling ampuh. Kita tidak perlu membeli produk mahal yang bisa menguras kantong kita dan membuat kita terpaksa puasa berbulan-bulan demi membeli alat kecantikan yang tak jelas khasiatnya. Dalam penelitian menyatakan bahwa senyum itu membuat otot wajah lebih elastis dan awet muda. Kenapa? Karena waktu ketika kita senyum atau tertawa tubuh ini akan mengeluarkan hormone endorphin. Hormone semacam “morfin” yang bisa membuat tubuh rileks dan tenang. Bukan itu saja ternyata tersenyum juga membuat orang tidak gampang sakit. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu ilmuwan asal barat mengatakan bahwa hasil penelitian terhadap orang-orang yang tersenyum dan tertawa adalah system imunitas atau kekebalan tubuhnya meningkat hingga 40%. Senyum juga menjadi poin terpenting yang tidak boleh diremehkan dalam menjalin suatu relasi persahabatan yang sukses.
Tersenyum atau tertawa yang wajar itu laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat besar sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku”.
Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah “ janganlah engkau banyak tetawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga bahwa. “ senyummu didepan saudaramu adalah sedekah”.
Orang arab senang menuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut merekam perangai yang demikian itu merupakan tanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.
Wajah nan berseri suka memberi
Dan, tentu bersuka cita saat dipinta
Pada dasarnya Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak menegnal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langah yang terarah.
Abu Tamam mengatakan,
“Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku,
Ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan,
Canda kadang menjadi serius,
Namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang”
Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang racau balau, dan,
{Sesudah itu ia bermuka masam dan merengut.} (QS. Al-Muddatsir: 22)
Dalam Faidhul Khatir, Ahmad Amin menjelaskan demikian. “orang yang mampu tersenyum dalam menjalani hiidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain”.
Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah tersenyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu kesulitan; melihatnya lalu tersenyum, menyiasati lalu tersenyum, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau. Sekali ia menjumpai suatu kesulitan ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai suatu yang amat sangat besar yang akan memberatkannya. Dan yang seperti itulah yang acapkali membuat semangat orang semakin menurun dan asanya berkurang. Bahkan tak jarang orang yang seperti ini berdalih dengan kata-kata “ seandainya…” “kalau saja…” dan “seharusnya..” orang seperti ini sangatlah nista. Bukan zamannya yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya. Bagaimana tidak, iamenginginkan kebehasilan dalam menjalani kehidupan ini, tetapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat orang yang hendak berjalan tetapi selau dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya ia hanya menuggu langit menurunkan emsnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.
Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata “Langit selaluberduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”
Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda takkan pernah mengembalikannya”
Orang berkata “ Langitku yang ada didalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya.bagaimana mungkin jiwaku sanggup menegmbangkan senyum manisnya
Maka akupun berkata, “ tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya…
Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selau berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar. Nah,,,senyuuuum… say ciiiiiis guys!! Tersenyumlah untuk mengahadapi masa depan!.
Buah Tangan :
Bardul Yad S.M el_Mooja
{Santriwati Pon-Pes Darussalam Sengon Jombang}
artikel rindu
Eitch…!!
Hati-Hati Dengan Rindu!
Dengan apakah kau bandingkan pertemuan kita
Kasihku…
Dengan samar sepoi pada masa sempurna
Meningkat naik, setelah menghalau panas payah terik
Hatiku terang menerima katamu
Bagai bintang memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu
Bagai sedap malam menyirak kelopak
Dari penggalan syair diatas, cukup indah bila kita rasakan, rasa rindu seseorang terhadap kekasihnya. Kenikmatan cita rasa cinta terkuak dalam satu kata yaitu RINDU. Kenapa rindu selalu berkaitan dengan kata Cinta? dimana ada rindu pasti cinta ikut terselubung didalamnya. Namun apakah salah bila manusia mempunyai rasa rindu atau cinta yang berlebihan?
Jangan pernah merindukan sesuatu sacara berlebihan. Karena yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam. Seorang muslim akan merasa bahagia ketika ia dapat menjauhi keluhan, kesedihan dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mebngatasi keterasingan, keterputusan, dan keterpisahan yang seperti halnya dikeluhkan oleh para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah tanda dari kahampaan hati.
“Tidakkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Rabb-nya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya”.
(QS. Al-Jâtsiyah: 23)
Seorang asal Andalusia menyombongkan dirinya karena bisa merasakan rasa suka yang melebihi batas.
sebalum aku, orang mengeluh berat berpisah
dan ketakutan muncul pada yang mati dan yang hidup hidup
jika rusuk-rusukku menghimpun
maka aku tidak akn lagi mendengar dan tidak pula melihat
Bila saja tulang-tulangnya berhimpun ketakwaan, dzikir, kesadaran rohani dan ilahiyah, maka kebenaran akan bisa dicapai. Disamping itu, bukti akan menjadi semakin jelas dan kebenarannya akan terlihat. Maka dari itu, sah-sah saja bagi kalian yang mempunyai rasa rindu dan cinta yang besar asalkan itu untuk Tuhanmu. Ada juga yang menanyakan bukannya rasa rindu dan cinta kepada sesama merupakan Rahmatullah? Memang iya, tapi rasa itu tidak boleh kita umbar. Akan lebih baik jika kita mencintai dan merindukan seseorang karena Allah dank arena dia mencintai Allah dan menjadi jalan untuk menghantarkan kita pada jalannya mencintai Allah.
Ibnu Qoyyim telah memberikan terapi sangat manjur tentang masalah ini dalam bukunya Ad dâ’wad Dawâ’ atau Al Jawâb asy Syâfi’an man sa’alan ‘anid Dawâ’ asy syâfi. Buku ini sangat terkenal, anda bisa merujuk pada dua buku tersebut.
Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya. Diantaranya,
1. hati yang tak terisi rasa cinta, rasa syukur, dzikir, dan ibadah kepada Allah.
2. membiarkan mata jalang. Mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan kepada kesdihan dan keresahan.
(Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”)
(QS. An-nûr.30)
Jika kita amati ayat diatas, kenapa laki-laki yang diperintahkan untuk menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka? Padahal pada zaman sekarang, justru wanita yang selalu mengumbar aurat dan kemaluan mereka. Dengan realita yang semakin pelik ini, siapakah yang patut kita salahkan?. Sebenarnya dalam hal ini memang seharusnya yang laki-lakilah yang memulai, kalau saja mereka dapat menjaga dan menahan pandangan mereka, perempuan tidak akan berprilaku dan berpakaian diluar koridor syari’at. Karena rasa bangga diperhatikan oleh laki-laki jika berpakaian sexy dan laki-lakipun suka akan hal itu dan selalu memuji perempuan yang tampak anggun dengan balutan yang minim maka timbullah rasa yang demikian. Andai saja kaum laki-laki dapat menjaga pandangan mereka pastilah wanita akan merasa malu akan penyelewengan pemahaman mereka akan suatu keanggunan wanita sholihah yang sebenarnya.
Rosulullah juga pernah bersabda, “pandangan (mata) itu dalah satu dari sekian banyak anak panah iblis”.
Jika kau liarkan matamu pada semua mata,
Maka semua pemandangan akan membuatmu lelah.
Kau lihat pemandangan, tapi tak seluruhnya mempu kau lihat
Dan kau tatap
3. Meremehkan ibadah, dzikir, do’a dan shalat nafilah
(Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar).
(Al- Ankabût: 45)
Adapun oba-obat untuk menghindari keresahan hati yang berlebihan diantaranya:
1. berusaha untuk selalu berada di pintu-pintu ibadah dan memohon kesembuhan kepada yang Maha Agung.
2. merendahkan pandangan dan menjaga kemaluan
3. menjauhkan hati dari hal-hal yang mengikat dan berusaha melupakannya.
4. menyibukkan diri dengan amal sholeh dan berguna
5. menikah secara syar’i.
Rosulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang sudah mampu untuk menikah, hendaklah menikah”. Wallahu’alam.
Buah tangan :
Bardul Yad S.M el_Mooja
(Santriwati Pon-Pes Darussalam Sengon Jombang)
Minggu, 02 Mei 2010
analisis puisi
Analisis Puisi
“ LUDAH YANG KERING”
Karya Andrinof A. Chaniago
Disusun untuk memenuhi
Tugas mata kuliah SEMANTIK
Dosen Pembina : Susi Darihastining, M.Pd

Disusun Oleh :
SITI MU’AWANAH
NIM : 086172
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2010
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah nemberikan Rahmat Taufik serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah semantik yang merupakan salah satu syarat mengikuti UAS semester III Pridi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.
Sholawatserta salam tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang yakni agama islam.
Dengan tersusunnya makalah ”Analisis Puisi LUDAH YANG KERING karya Andrinof A Chaniago” ini. Penulis berharap semoga analisis ini bisa dipelajari dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Susi Darihastining M,Pd, selaku pembimbing serta dosen pembimbing kuliah semantik
Untuk teman-teman saya yang telah memberi dorongan dan semangat kepada saya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Seperti pribahasa tiada gading yang retak yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.begitupun dengan makalah ini. Karena ketrbatasab kemampuan penulis, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, penulis mengharap segala saran dan kritik yang membangun.
Jombang, Januari 2010
Penulis
DAFTAR ISI
HAL JUDUL ..............................................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................
PUISI ”LUDAH YANG KERING”.........................................................................
PARAFRASE.............................................................................................................
PEMBAHASAN ”ANALISIS PUISI”......................................................................
BIOGRAFI.................................................................................................................
SIMPULAN................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
LUDAH YANG KERING
Lihatlah!
Masih adakah hati yang berisi?
Ketika logika sudah berbau terasi
Ketika nurani kian tererosi...
Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
Kucing justru giat pamer gusi...
Terbuai di empuknya jok mercy
Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
Menumbuhkkan nurani yang semakin membesi
Saat rakyat butuh nasi...
Namun justru di kremasi
Ah, sudahlah!
Ini bukan demonstrasi..
Ini juga bukan mosi...
Ini hanyalah puisi...
Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
Kampus UI
24 Agustus 2007
Andrianof A Chaniago
PARAFRASE
Di dalam ranah politik yang semakin menjadi, tak ada lagi hati yang memiliki keikhlasan dalam mengarungi jabatannya sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. Semakin hari semakin menciut pula hati para pemimpin untuk menjadi manusia yang jujur dan adil. Akal sehat telah terkalahkan oleh mahligai keindahan duniawi.
Dalam kesendiriannya, penulis puisi "Ludah Yang Kering" terbayang akan ketidak adilan seorang pejabat. Dengan keadaan ekonomi yang semakin melilit serta serba kekurangan rakyat justru menjadi korban ketidak adilan dan ketidak jujuran seorang pejabat yang semakin hilang nurani mereka bersama persaingan untuk medapatkan kedudukan atau jabatan.
Semenjak dunia politik menjadi ajang bergengsi, para pejabat sibuk dengan kegiatan mengejar kursi (kedudukan). Berkampanye sana-sini dengan mengumbar janji manis. Mereka sudah tidak mengenal lagi arti demokrasi yang dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Serakah dan tak pernah puas itulah kata-kata yang pas bagi mereka yang hobinya mengobral janji. Para birokrat berlagak sok melarang dan memberantas ketidak jujuran, namun di belakang mereka malah berkomplot dan menjadi sahabat dalam berpesta uang panas yang seharusnya diberikan kepada rakyat yang kelaparan dan telantarkan.
Politik sekarang hampa etika di balik dengan tuntutan rakyat. Bahkan ketika harga BBM naik, rakyat semakin tercekik akan kebutuhan hidup yang melunjak naik.
Tapi, bagaimanapun ini hanyalah sebidik puisi gambaran isi hati rakyat yang mulai jenuh dan lelah oleh para petinggi mereka. Sekeras apapun kita berbicara namun tak ada gunanya. Meski melalui media massa dan demonstrasi yang tak kunjung habisnya pejabat malah mentereng dengan dasi kebanggaannya. Yah inilah negara kita, miskin hati dan kaya janji. Janji para pemimpin yang tak mempedulikan kita lagi.
PEMBAHASAN
| NO | Kategori | Konsep | Indikator |
| 1. | Struktur atau berhubungan dengan sintaksis dan morfologi | a. Kalimat majemuk koordinatif (KMS) adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk ini dihubungkan dengan konjungsi seperti, dan, atau, tetapi, dan namun. Kelimat majemuk setara dibagi menjadi tiga : · KMS sejalan · KMS berlawanan · KMS penunjukan b. Kalimat majemuk subordinatif (KMB) adalah kalimat ,majemuk yang hubungan antar klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satunamanya klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan, kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan subordinatif seperti, ketika, meskipun dan karena. c. Kalimat adalah · satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik/turun. · Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intinasi akhir dan terdapat klausa. · Lafal yang tersusun dari dua buah Kata/lebih yang mengandung arti sengaja serta berbhasa Arab dianggap sebagai definisi yang sudah baku. (Djuha, 1998). d. Kata depan adalah kata yang berfungsi membentuk frase preposisi | § Kalimat ini termasuk di dalam contoh KMS penunjukan yang berupa KMS berlawanan. "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!" § "Ketika logika sudah berbau terasi" § "Ketika nurani kian tererosi.." § "Ketika tikus sibuk pesta korupsi" § Kalimat perintah o "Lihatlah!" o "Ah,sudahlah !" o "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati !" § Kalimat tanya "Masih adakah hati yang berisi ?" § "Di" menandai hubungan tempat, kejadian atau peristiwa. "Dikilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi" |
Rabu, 28 April 2010
nyanyian derita
Dendanganku orang tuamu, wahai anak bangsa!!!

Aku relakan hari kemarin Meniti lalu resah dan lelah Karena tekadku dalam batin Menanti esok lelah dan cerah Aku biarkan hati merana Melangkah lalu bimbang dan kaku Karena hasratku di dalam dada Menanti esok kasih dan lagu Tetapi semua hari terbenam dan lalu Rinduku habis termakan umur Dan esok lewat,satu demi Satu Jauhkan nantiku kemimpi dan udzur

Wahai adik dan kawanku sekalian…!!
Inilah potret bapak kita yang sedang menunggu nasib baik menghampirinya
Kurus kerontang, hingga kusam kulitnya tak pernah ia pedulikan
Demi sesuap nasi dan seutas uang teruntuk keluarga tersayang
Tiada lelah untuk berusaha dalam pencarian
Dan selalu berharap tak ada lagi nasib kesekian seperti dirinya
Kepada kita, anak bangsa agar menjadi pribadi yang unggul dan berkarya
Jangan kau biarkan orang tua kita merana dalam harapan semu kesuksesan bagi anak-anaknya
Mari kita wujudkan dan angkat derajat mereka dengan sebuah ketekunan dan kesuksesan dalam berakhlak dan berprestasi sebagai santri dan siswa Darussalam!!
(Bardul Yad S.M El_Moojaa)
Senin, 12 April 2010
Minggu, 11 April 2010
berbicara sebagai sarana komunikasi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa dengan rahmat dan karunianya tugas makalah kami dapat terselesaikan dengan baik tanpa halangan atau kendala apapun.
Makalh ini membaas tentang berbicara sebagai suatu cara bewrkomunikasi, dan untuk mengembangkan daya kretif kami dalam mengatasi berbagai pokok bahasan.
Kepada semua pihak yang berjasa atas selesainya makalah ini kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jombang, Oktober 2009
penyusun
A.BERBICARA SEBAGAI SUATU CARA BERKOMUNIKASI
Manusia adalah makhluk social, dan tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan social, suatu tiondakan dan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan serta menyatujui sesuatu pendirian atau keyakinan.oleh karena itu maka didalam tindakan social haruslah terdapat elemen-elemen yang umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungkan sesame anggota masyarakat maka dipeerlukan komunikasi.
Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam nkelompok-kelompok dengan jalan mrenghablurkan konsep-konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan tersebut tidak aka nada serta dapat bertahann lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa. Dengan pewrkataan lain: masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.
Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasisangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual kita. Dalam system inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang tersebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mentral dan emisional dengan anggota-anggota lainnya.
Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang, dan menekankan hybungan-hubungan yang bersifat. Dua arah, memberi dan menerima. (Powers, 1954 : 5-6)
Dari pembicaran diatas jelaslah kita betapa besarnya peranan bahasa dalam kehidupan manusia. Sebelum kita memperbincangkan secara terperinci fungsi bahasa maka ada baiknya kita singgung pula sepintas kilas prinsip-prinsip dasar bahasa. Hal ini sangat penting diketahui serta dipahami oleh para guru bahasa yang selalu berhadapan dengan anak didiknya.
Professor Anderson mengemukakan adanya delapan prinsip (linguistik) dasar, yaitu:
Ø Bahasa adalah suatu sistem;
Ø Bahasa adalah vocal (bunyi ujaran);
Ø Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suku (arbitrary symbols);
Ø Setiap bahasa bersifat unik; bersifat khas
Ø Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan
Ø Bahasa adalah alat komunikasi
Ø Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada
Ø Bahasa itu berubah-ubah ( Anderson: 1972;35-36 );
Seorang ahli lain, M. Dougles brown setelah menelaah bahas adari enam buah sumber, membuat rangkuman sebagai berikut :
(a) Bahasa adalah system yang sistematis , barangkali juga untuk system generatif.
(b) Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suku ( symbol-simbol ).
(c) Lambang-lambang tersebut terutama sekali bersifat vocal, tetapi mungkin juga bersifat visual.
(d) Lambang-lambang itu mengandung makna-makna konvensional.
(e) Bahasa dipergunakan sebagai komunikasi.
(f) Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa ( speech community ) atau budaya.
(g) Bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia.
(h) Bahasa diperoleh oleh semua bangsa/ orang dengan cara yang hampir/ banyak bersamaan; bahasa dan belajar bahasa mempunyai cirri-ciri kesementaraan ( universal characteristic). (Brown, 1980 : 5)
Dari kedua sumber tersebut, walaupun dengan kata-kata yang berbeda disana sini, dapat kita lihat banyaknya persamaan pandang dan gagasan mengenai bahasa (language) itu.
Dari kedua sumber mengenai prinsip-prinsip dasar bahasa yang yeng telah kita kemukakan di atas, mari kita pusatkan perhatian kita pada butir
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan atau tindakan serangkaian unsure yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan penyimak dan pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan kimunikasi atau speech act yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dslsm hsl ini harus kit stekasnksn konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mempunyai implikasi-implikasi terhadap produksi-produksi dank onperhensi terhadap penghasilan dan pemahaman suatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderumg mengerahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya ang pokok.(Brown,1980 : 193”-4).
Untuk menunjukkan hakekat purposive dari komunikasi itu, Halliday mempergunakan istilah fungsi. Dia memang telah mempergunakan banyak waktu untuk mengadakan penelitian serta penjelajahan mengenai hal itu, da akhirnya dapat merangkumkan adanya tujuh jenis fungsi bahasa, yaitu:
1) Fungsi instrumental bertindak untuk menggeerakkan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertent terjadi. Seperti ucapan:
“para guru beranggapan bahwa kamu salah”
“jangan pegang
2) Fungsi regulasi atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa. Ementara fungsi seperti iru terkadang sulit dibedakan antara fungsi instrumental dan regulasi. Namun dapat dibedakan bahwa fungsi regulasi lebih mengedepankan pengaturan. Contoh :
instrumental “saya menggapmu bersalah dan menghukum kalau selama tiga tahun dipenjara”.
Regulasi “demi keadilan untuk memperbaiki tindakanmu yang tidak bermoral maka kamu akan disekap dipenjara selama tiga tahun”.
3) Fungsi represintasional adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pegetahuan, menjelaskan atau mellaporkabn dalm pengertian menggambarkan realitas yang terlihat oleh seseorang.
Contoh:
“matahari panas”
“presiden berpidato tadi malam”.
4) Fungsi interakaksional bahasa bertindak untuk menjamin pemeluharaan sosial.
5) Fungsi personal membolehkan seorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung daam hati sanubarinya.
6) Fungsi heuristic melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan, mempelajari lingkungan. Fungsi heuristic seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban.
7) Fngsi imajinatif bertindak untuk menciptakan system-sistem atau gagasan-gagasan imajiner.
Menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti. Dalam penggunaannya, keempat keterampilan tersebutsering kali berhubungan satu sama lain. (Anderson, 1972 :3).
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atrau tindakan-tindakan serangkaian unsure-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengadung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dalam hal ini harus kita tekankan pentingnya konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mencapai implikasi-implikasi terhadap produksi dan komprehensi, terhadap penghasilan dan pemahaman sesuatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderung mengarahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya yang pokok, tujuan utamanya. ( Brown, 1980: 193-4.). setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistic: disatu pihak dia bertindak sebagai pembicara dan dipihak lain sebagai penyimak. Dalam komunikasi yang lancer , proses perubahan dari pembicara menjuadi penyimak dan dari penyimak menjadi pembicara begitu cepat, terasa sebagai suatu peristiwa biasa dan wajar, yang bagi orang kebanyakan tidak perlu dipermasalahkan apalagi dianalisis. Lain halnya bagi para ahli dalam bidang linguistic dan pelajaran bahasa. Bila kita analisis”suatu peristiwa bahasa” atau “ alanguage event” yang terjadi antara si pembicara (speaker ) si pendengar atau penyimak.
Bahasa memiliki peranan penting dalam berkomunikasi. Hal tersebut terjadi karena sebagai mekhluk social, manusia selalu berkomunikasi dengan oranmg lain sebagai wujud interaksi. Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melaui suatu hubungan yang teratur; belajar memembaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahsa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Daftar Rujukan: Tarigan, Henry Guntu
1. Konsep Dasar Berbicara
Kemampuan berbicara siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah. Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi.
Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni :
(1) berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal,
(2) berbicara adalah proses individu berkomunikasi,
(3) berbicara adalah ekspresi kreatif,
(4) berbicara adalah tingkah laku,
(5) berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,
(6) berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman,
(7) berbicara sarana memperluas cakrawala,
(8) kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat,
(9) berbicara adalah pancaran kepribadian. (Logan dkk., 1972:104-105).
2. Jenis-jenis Berbicara
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain : diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah, dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan minimal ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara. Kelima landasan tersebut adalah :
(1) situasi,
(2) tujuan,
(3) metode penyampaian,
(4) jumlah penyimak, dan
(5) peristiwa khusus.
Mari kita perbincangkan setiap landasan tersebut,
1) Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Jenis-jenis kegiatan berbicara informal meliputi :
(1) tukar pengalaman,
(2) percakapan,
(3) menyampaikan berita,
(4) menyampaikan pengumuman,
(5) bertelepon, dan
(6) memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 : 108).
Sedangkan kegiatan berbicara yang bersifat formal meliputi :
(1) ceramah,
(2) perencanaan dan penilaian,
(3) interview,
(4) prosedur parlementer, dan
(5) bercerita (Logan, dkk., 1972 : 116).
2) Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasi-kan, menstimulasikan, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya.
3) Metode Penyampaian
(1) penyampaian secara mendadak,
(2) penyampaian berdasarkan catatan kecil,
(3) penyampaian berdasarkan hafalan, dan
(4) penyampaian berdasarkan naskah.
4) Jumlah Penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, beberapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok besar).
5) Peristiwa Khusus
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa, atau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan, pemberian hadiah. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat digolongkan atas enam jenis,
(1) pidato presentasi,
(2) pidato penyambutan,
(3) pidato perpisahan,
(4) pidato jamuan (makan malam),
(5) pidato perkenalan, dan
(6) pidato nominasi (mengunggulkan). (Logan dkk., 1972 : 127).

