Analisis Puisi
“ LUDAH YANG KERING”
Karya Andrinof A. Chaniago
Disusun untuk memenuhi
Tugas mata kuliah SEMANTIK
Dosen Pembina : Susi Darihastining, M.Pd

Disusun Oleh :
SITI MU’AWANAH
NIM : 086172
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2010
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah nemberikan Rahmat Taufik serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah semantik yang merupakan salah satu syarat mengikuti UAS semester III Pridi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.
Sholawatserta salam tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang yakni agama islam.
Dengan tersusunnya makalah ”Analisis Puisi LUDAH YANG KERING karya Andrinof A Chaniago” ini. Penulis berharap semoga analisis ini bisa dipelajari dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Susi Darihastining M,Pd, selaku pembimbing serta dosen pembimbing kuliah semantik
Untuk teman-teman saya yang telah memberi dorongan dan semangat kepada saya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Seperti pribahasa tiada gading yang retak yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.begitupun dengan makalah ini. Karena ketrbatasab kemampuan penulis, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, penulis mengharap segala saran dan kritik yang membangun.
Jombang, Januari 2010
Penulis
DAFTAR ISI
HAL JUDUL ..............................................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................
PUISI ”LUDAH YANG KERING”.........................................................................
PARAFRASE.............................................................................................................
PEMBAHASAN ”ANALISIS PUISI”......................................................................
BIOGRAFI.................................................................................................................
SIMPULAN................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
LUDAH YANG KERING
Lihatlah!
Masih adakah hati yang berisi?
Ketika logika sudah berbau terasi
Ketika nurani kian tererosi...
Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
Kucing justru giat pamer gusi...
Terbuai di empuknya jok mercy
Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
Menumbuhkkan nurani yang semakin membesi
Saat rakyat butuh nasi...
Namun justru di kremasi
Ah, sudahlah!
Ini bukan demonstrasi..
Ini juga bukan mosi...
Ini hanyalah puisi...
Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
Kampus UI
24 Agustus 2007
Andrianof A Chaniago
PARAFRASE
Di dalam ranah politik yang semakin menjadi, tak ada lagi hati yang memiliki keikhlasan dalam mengarungi jabatannya sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. Semakin hari semakin menciut pula hati para pemimpin untuk menjadi manusia yang jujur dan adil. Akal sehat telah terkalahkan oleh mahligai keindahan duniawi.
Dalam kesendiriannya, penulis puisi "Ludah Yang Kering" terbayang akan ketidak adilan seorang pejabat. Dengan keadaan ekonomi yang semakin melilit serta serba kekurangan rakyat justru menjadi korban ketidak adilan dan ketidak jujuran seorang pejabat yang semakin hilang nurani mereka bersama persaingan untuk medapatkan kedudukan atau jabatan.
Semenjak dunia politik menjadi ajang bergengsi, para pejabat sibuk dengan kegiatan mengejar kursi (kedudukan). Berkampanye sana-sini dengan mengumbar janji manis. Mereka sudah tidak mengenal lagi arti demokrasi yang dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Serakah dan tak pernah puas itulah kata-kata yang pas bagi mereka yang hobinya mengobral janji. Para birokrat berlagak sok melarang dan memberantas ketidak jujuran, namun di belakang mereka malah berkomplot dan menjadi sahabat dalam berpesta uang panas yang seharusnya diberikan kepada rakyat yang kelaparan dan telantarkan.
Politik sekarang hampa etika di balik dengan tuntutan rakyat. Bahkan ketika harga BBM naik, rakyat semakin tercekik akan kebutuhan hidup yang melunjak naik.
Tapi, bagaimanapun ini hanyalah sebidik puisi gambaran isi hati rakyat yang mulai jenuh dan lelah oleh para petinggi mereka. Sekeras apapun kita berbicara namun tak ada gunanya. Meski melalui media massa dan demonstrasi yang tak kunjung habisnya pejabat malah mentereng dengan dasi kebanggaannya. Yah inilah negara kita, miskin hati dan kaya janji. Janji para pemimpin yang tak mempedulikan kita lagi.
PEMBAHASAN
| NO | Kategori | Konsep | Indikator |
| 1. | Struktur atau berhubungan dengan sintaksis dan morfologi | a. Kalimat majemuk koordinatif (KMS) adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk ini dihubungkan dengan konjungsi seperti, dan, atau, tetapi, dan namun. Kelimat majemuk setara dibagi menjadi tiga : · KMS sejalan · KMS berlawanan · KMS penunjukan b. Kalimat majemuk subordinatif (KMB) adalah kalimat ,majemuk yang hubungan antar klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satunamanya klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan, kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan subordinatif seperti, ketika, meskipun dan karena. c. Kalimat adalah · satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik/turun. · Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intinasi akhir dan terdapat klausa. · Lafal yang tersusun dari dua buah Kata/lebih yang mengandung arti sengaja serta berbhasa Arab dianggap sebagai definisi yang sudah baku. (Djuha, 1998). d. Kata depan adalah kata yang berfungsi membentuk frase preposisi | § Kalimat ini termasuk di dalam contoh KMS penunjukan yang berupa KMS berlawanan. "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!" § "Ketika logika sudah berbau terasi" § "Ketika nurani kian tererosi.." § "Ketika tikus sibuk pesta korupsi" § Kalimat perintah o "Lihatlah!" o "Ah,sudahlah !" o "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati !" § Kalimat tanya "Masih adakah hati yang berisi ?" § "Di" menandai hubungan tempat, kejadian atau peristiwa. "Dikilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi" |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar