NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA
KARYA TERE LIYE
PENGERTIAN TEMA
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Atau gampangnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
Dalam novel, tema dapat dilihat melalui persoalan-persoalan yang dikemukakan, cara-cara watak itu bertentangan antara satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan, semuanya menentukan rupa tema yang dikemukakan oleh pengarang. Justru, pokok persoalan atau tema merupakan pengertian yang terkandung dibalik sebuah karya.
Persoalan tersebut ialah perkara-perkara kecil dalam sesuatu karya yang ada hubungannya dengan tema. Persoalan yang berbagai diwujudkan dalam sesuatu karya bertujuan untuk menghidupkan serta memperkukuh tema yang coba diketengahkan oleh pengarang.
Tema dalam cerita pendek biasanya hanya berisi satu tema. Hal itu berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas.
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, yaitu
Ada tema didaktis, yaitu tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatan
Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit
Ada tema yang dinyatakan secara simbolik
Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya
Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
minat pribadi
selera pembaca
keinginan penerbit atau penguasa
Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan gagasan yang dipahami oleh pembaca melalui karya sastra. Gagasan sentral yang terdapat atau ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang (pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna aniatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatan
pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalam karyanya.
Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karta.
Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut.
Dalam suatu karya sastra ada tema sentral dan ada pula tema samapingan. Yang dimaksud tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Yang dimaksud tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.
Ada tema yang terus berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar, serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut leitmotif. Leitmotif ini mengantar pembaca pada suatu amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
Analisis Tema pada Novel Hafalan Shalat Delisa
Tema dari novel Hafalan Shalat Delisa adalah tentang kecintaan seorang anak berumur enam tahun keluarganya dan mencoba mengenali Tuhannya dengan hafalan-hafalan bacaan shalat yang telah di ajarkan oleh gurunya. Cerita merupakan kisah nyata pada salah satu keluarga yang bertempat tinggal di Banda Aceh tepatnya didaerah Lhok Nga.
Ringkas cerita Delisa adalah anak dari Ummi Salamah dan Teuku Usman, Delisa merupakan putri yang paling cerdas diantara ke tiga saudaranya. Cut Fatimah, Cut Zahra dan Cut A’isyah. Delisa selalu aktif dibangku sekolah dan banyak bertanya kepada setiap orang jikalau dia tidak mengerti tentang suatu hal.
Sebagai bukti dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
”Ustadz,kenapa ya aku sering ke bolak-balik?” delisa menyeletuk, mengangkat kepalanya dari buku iqra’ di atas rihal. Ingat sesuatu. Ustad Rahman menatapnya? Keblak-balik? Oo, bacaan Shalat? ”.
”kenapa gak boleh kebolak-balik?”. (hal:35)
”Abi, kenapa jika aku main sepak bola selau dijadikan kipper? Kata teman-teman karena kakiku cacat jadi aku harus jadi kipper saja. Aku tidak suka jadi kipper, kerjanya Cuma berdiri bengong nunggu bola menyerbu. Kan gak asyik bi..”.
”Abi, kapan Delisa bisa sekolah lagi?”
”Abi, kenapa Umam sekaramg sering berdiam diri?”
”Memangnya sedih kenapa, Bi?” (hal 151)
Delisa merupakan sosok yang gigih dan pantang menyerah. Ia akan melakukan apa saja untuk mencapai obsesinya.
”sore itu delisa dengan semanagtnya menghafal bacaan shalat kemanapu dia berada. Di ayunan itu terbata-bata delisa mencoba menghafal bacaan shalat dan berkali-kali mencoba menginetnya dan terus berusaha agar kali ini bacaannya yang terbolak-balik segera berakhir. Semua itu ia lakukan demi kalung yang telah dibelinya dan akan diberikan padanya oleh ummy sebagai hadiah jika ia lulus dalam hafalan shalat”.
Analisis PLOT
Plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh penulis yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan alur/plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada.
Pengertian Plot menurut beberapa ahli :
Menurut Virgil Scoh, 1966 : 2. Plot adalah prinsip yang isensial dalam cerita.
Menurut Morjorie Boulton, 1975 : 45. Plot adalah pengorganisasian dalam novel atau penentu struktur novel.
Menurut Dick Hartoko, 1948:149
Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu:
Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal.
Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.
Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action).
Adzan subuh dari meunasah terdengar syahdu. Bersahutan satu sama lain. Menggetarkan langit-langit Lhok Nga yang masih gelap. Jangan salah, gelap-gelap seperti ini kehidupan sudah dimulai. Remaja tanggung sambil menguap menahan kantu mengambil wudhu. Anak laki-laki bergegas menjamah sarung dan kopyah. Anak gadis menjumput lipatan mukena putih dari atas meja. Bapak-bapak membuka pintu rumah menuju meunasah. Ibu-ibu membimbing anak kecilnya bangun shalat berjama’ah. “Ummi Delisa nggak mau bangun!” suara Aisyah berteriak kencang-kencang”. (HSD:01)
waktu berjalan cepat, senin-selasa-rabu langsung wuss hari sabtu. Bagi Delisa waktu juga bergerak cepat. Dengan adanya jembatan keledai itu Delisa mengahafal bacaan shalatnya lebih cepat, lebih lancer.memang masih bolong disana-sini. Tetapi ibarat bangun rumah sudah kelar 95%. (HSD: 47)
Ummi salamah terpana. Ya Allah, kalimat itu begitu indah. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika. Delisa cinta Ummi karena Allah.. Tasbih ummi terlepas. Matanya berkaca-kaca. Ya Allah apa yang barusan dikatakan bungsunya? Ya Allah darimana ia dapat ide untuk mengatakan kalimat seindah itu? Tangan ummi bergetar menjulur merengkuh tubuh Delisa. (HSD:49)
Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks.
“Allahu Akbar!”
Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbirotul Ikhrom; persis ucapan itu hilang dari mulut delisa. Persis di tengah lautan luas yang berteriak tenang. Persis disana! LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika. Merekah panjang ratusan kilometer. (HSD: 61)
Tubuh lemah delisa terus terseret jauh gelombang tsunami. Terikat di atas papan. Bersama ribuan orang lainnya. Haru pagi Ahad, 26 Desember 2004. Penduduk dunia mencatatnya. (HSD: 69)
Delisa tak bisa bergerak, kaki kanannya hingga ke betis sempurna terjepitdi sela-sela dahan semak. Tubuh mungilnya terjembab di atas semak belukar tersebut. Badannya terbaring dengan bagian sebelah kiri menyentuh tanah. Kaki kanannyamenggantung tak berdaya. (HSD:84)
Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).
Bacaan shalat itu sepertinya berbicara kepada delisa. Esok sorenya, dokter Peter mengijinkan Delisa untuk pulang. Di antar oleh kak Ubai menumpang jeep tua. Abi tersenyum riang sepanjang perjalanan. Meski tidak banyak bercerita dan tertawa. Delisa sedikit bingun melihat perangai Abi. Pasti ada yang disembunyikan ternyata abi menyiapkan kejutan di rumah. Ada pesta penyambutan kecil untuknya.
Alur atau Plot adalah rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Banyak anggapan keliru mengenai plot. Sementara orang menganggap plot adalah jalan cerita. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu. Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.
Atau, secara lebih gamblang plot adalah –menurut Aswendo Atmowiloto- sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.
Semua peristiwa yang terjadi di dalam novel harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa.
Analisis Tokoh dan Perwatakannya
Macam-macam tokoh
Telah di uraikan sebelumnya bahwa tokkoh-tokoh dalam cerita fiksi dapat di bagi menjadi beberapa macam. Pembagian tokoh tersebut didasarkan pada beberapa hal. Pertama, berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita. Kedua, berdasarkan watak tokoh dalam cerita. Ketiga, berdasarkan perkembangan watak tokoh dalam cerita.
Pembagian tokoh berdasarkan fungsinya dalam cerita
Tokoh utama atau tokoh inti dalam Novel Hafalan Shalat Delisa Untuk menetukan tokoh utama atau tokoh inti Novel Hafalan Shalat Delisa. Dapat di lakukan dengan menggunakan beberapa cara. Di antaranya adalah dengan melihat frekuensi pemunculan dan intensitas keterlibatan tokoh utama dalam cerita. Selain itu dapat juga mengamati tokoh yang sering di beri komentar dan di bicarakan oleh pengarang.
Berikut ini peneliti kemukakan beberapa data untuk membuktikan adanyan tokoh utama dalam novel tersebut.
Data (1) Delisa (tokoh utama)
Delisa memang beda. Jadi terlihat amat lucu saat memandang ia berada ditengah-tengah mereka. Berlari-lari nebgejar bola. Meskipun demikian, Delisa tetap tidak beda dengan kebanyakan gadis kecil perempuan lainnya untuk urusan tampang. Amat menggemaskan, sungguh imut wajahnya. Apalagi kalau ia sedang nyengir. (HSD: 11)
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Lepas satu minggu, Delisa sudah nyaris hafal seluruhnya. Shalatnya jauh lebih nyaman. Delisa bisa berdo’a lebih baik. Mendo’akan kak fatimah, mendo’akan kak Zahra, kak Aisya dan Ummi, dimanapun sekarang Ummi berada. (HSD: 240)
Data (2)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Data (3)
Ummi salamah terpana. Ya Allah, kalimat itu begitu indah. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika. Delisa cinta Ummi karena Allah.. Tasbih ummi terlepas. Matanya berkaca-kaca. Ya Allah apa yang barusan dikatakan bungsunya? Ya Allah darimana ia dapat ide untuk mengatakan kalimat seindah itu? Tangan ummi bergetar menjulur merengkuh tubuh Delisa. (HSD:49)
Data (4)
Bukankah sudah dikatakan sebelumnya. Delisa memang ngetop di Lhok Nga. Kebiasaanya berkeliling dari satu tenda ketenda yang lainmembuatnya dikenal. Apalagi melihat tampangnya yang amat berbeda. Semua orang seperti berkepentingan untuk menjenguknya, “kabar sakinya menjadi headline di kota Lhok Nga, usman”. Ini berndaan wak Burhan. Delisa nyengir tidak mengerti apa maksudnya. (HDS: 223)
Kutipan data tersebut, bila di amati dan dianalisis lebih lanjut akan mendapatkan jawaban tentang tokoh utama dalam novel Hafalan Shalat Delisa. Data (1) merupakan tahap awal pengisahan. Pengarang menampilkan tokoh Delisa sebagai pribadi yang sangat luar biasa. Di usiannya yang masih belia namun ia memiliki hati emas. Yang selalu mengerti keadaan orang, penyabar dan selalu menerima keadaan dengan rasa syukur.
Sejalan dengan perkembangan cerita. Beberapa tokoh lain mulai dilibatkan pengarang. Data (2) memperlihatkan keterlibatan tokoh Delisa dengan kakak-kakaknya dan ibunya. Disana masih terdapat kemencolokan sifat Delisa yang kekanak-kanakan. (3) pengarang mengisahkan sikap Delisa yang mengejutkan umminya karena ia mengatakan sesuatu yang belum tentu terfikirkan oleh anak yang seusianya.
Berdasarkan data (1), (2), dan (3) terlihat penarang selalu melibatkan tokoh Delisa dalam cerita.sehingga dapat di simpulkan frekuensi kemunculannya lebih banyak jika dibandingkan dengan tokoh lain. Konflik-konflik yang terjadi dalam cerita , tidak lepas dari keterlibatan Delisa. Hal ini terlihat pada data (4). Tokoh Delisa memang selalu muncul dan dikenal banyak orang karena keramahannya dan sifat sosialisnya.
Berdasarkan analisis tersebut dapat di simpulkan bahwa tokoh utama novel Hafalan Shalat Delisa adalah Delisa. Kesimpulan ini sangat beralasan karena tokoh Delisa lebih sering muncul terlihat dalam jalinan peristiwa. Selain itu tokoh Delisajuga sering di beri komentar dan di bicaraka dalam cerita.
Pembagian tokoh berdasarkan wataknya dalam cerita
Pelaku yang protagonis dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
Pelaku protagonis sebagaimana adalah pelaku yang memiliki watak yang baik dan terpuji sehingga di senangi pembaca. Untuk mengetahui pelaku protagonis dalam novel mahligai diatas pasir karya mira W. berikut
Pelaku protagonis sebagaimana adalah pelaku yang memiliki yang baik dan terpuji sehingga di senangi pembaca. Untuk mengetahui pelaku protagonis dalam novel tersebut, berikut ini peneliti kutipkan beberapa data:
Data (1)
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Data (2)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Tokoh Kak Sophi adalah salah satu dokter sukarelawan yang mengobati delisa saat sakit. Dokter sophi amat sayang dengan delisa.
Dengan karakter ummi yang sahaja dan kak aisyah yang pencemburu dan tapi penyayang, kak zahra yang pendiam juga kak Fatimah yang dewasa dan tak ketiggalan tokoh abi yang menjadi pengayom keluarga. Berdasarkan beberapa data yang telah di analisis tersebut dapat di simpulkan bahwa tokoh protagonist dalam novel hafalan shalat delisa adalah abi, ummi, kak aisyah, kak Fatimah dan kak Zahra juga dokte shophi. Kesimpulan ini di dasarkan atas dasar watak dan prilaku yang yang di miliki oleh tokoh yang sesuai dengan karakteristik tokoh protagonist. mereka sangat membantu dan mendukung apa yang di cita-citakan tokoh Delisa sampai terwujud . scara singkat dapat dikatakan bahwa gambaran prilaku tokoh mereka bertiga patut di banggakan dan di puji.
Pelaku yang antagonis dalam novel hafalan sholat delisa ini tidak ada, karena dari awala hingga akhir semua tokoh yang berwatak baik. Karena novel ini adalah menceritakan sesuatu yang nyata.
Macam-macam penokohan
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui tuturan pengarang.
Penokohan semacam ini pada dasarnya sering di jumapai dalam karya sastra. Rupa atau pribadi tokoh di deskripsikan oleh pengarang secara langsung. Pengenalan terhadap tokoh dapat dengan mudah di lakukan oleh pembaca tanpa melalui proses berfikir yang mendalam.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang penokohan ini, peneliti kutipkan beberapa data yang di ambil dari novel Hafalan Shalat Delisa.
Delisa sibungsu, berwajahpaling menggemaskan. Ia sungguh tak terlihat seperti anak Lhok Nga lainnya. Beda sekali dengan kakak-kakaknya. Rambut delisa ikal berwarna. Kulitnya putih kemerah-merahan bersih. Matanya hijau. Delisa terlihat seperti anak-keturunan. Meskipun itu tidak aneh, ummi delisa memang keturunan tuki-spanyol. Mungkin itu salah satu gen setelah terpendam begitu lama akhirnya menurun ke delisa.
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
Keadaan maupun rupa tokoh Delisa deskripsikan secara rinci oleh pengarang. Ivan seorang anak yang berbeda dendan saudara-saudaranya, dia berambut ikal dan bermat hijau berkulit puti kemerah-merahan. Sedangkan ummilah yang membuat delisa menjadi seperti itu. Berbeda. Itu semua karena ummi yang masih mempunyai keturunan turki spanyol. Meski keturunan itu jauh dari kakeknya yang terdahulu.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui lingkungan kehidupannya
Watak atau pribadi tokoh dalam cerita dapat juga di kenali melalui deskripsi lingkungan tempat tinggal tokoh. Lingkungan sekitar tokoh yang kotor,tidak teratur, dapat meberi kesan tertentu terhadap pribadi tokoh di dalamnya. Demikian juga sebaliknya, lingkungan yang asri, teratur, rapi, akan mencerminkan pelaku dengan pribadi yang lain. Penggambaran dengan cara tersebut, dapat di amamati dalam kutipan berikut:
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
Dari data di atas tokoh aisyah telah tergambarkan denhgan jelas bahwa ia adalahsaudara kembar zahara yang mempunyai kepribadian yang bertolak belakang dengannya. Sedangkan si sulung Fatimah merupakan pribadi yang sangat dewasa dan suka membantu ibunya saat kesulitan.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui prilakunya
Prilaku atau perbuatan yang di lakukan oleh tokoh cerita dapat member gambaran kepada pembanca tentang watak atau prilakunya. Cara ini sering di lakukan pengarang untuk mendiskripsikan watak tokoh atau pelaku yang di kehendakinya.
Delisa sibungsu, berwajahpaling menggemaskan. Ia sungguh tak terlihat seperti anak Lhok Nga lainnya. Beda sekali dengan kakak-kakaknya. Rambut delisa ikal berwarna. Kulitnya putih kemerah-merahan bersih. Matanya hijau. Delisa terlihat seperti anak-keturunan. Meskipun itu tidak aneh, ummi delisa memang keturunan tuki-spanyol. Mungkin itu salah satu gen setelah terpendam begitu lama akhirnya menurun ke delisa.
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Sikap dan perbuatan abi sangatlah berpengaruh bagi delisa untuk sekarang ini. Karena delisa tak mempunya siapa-siapa lagi kecuali abi seuasai gelombang tsunami yang menghempas kota Lhok Nga. Jika abi sedih maka delisa juga ikut sedih. Kini abi sedih dan sedang merindukan putri-putrinya. Abi juga merindukan ummi sosok wanita yang solihah dan selalu menjaga dirinya untuknya juga mengayomi putrinya disaat ia sedang kerja. Putrinya yang mempunyai kepribadian yang berbeda juga bentuk kelebihan maupun kekurangannya.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri.
Kadang-kadang seorang pengarang melukiskan watak atau pribadi melalui monolog tokoh yang bersangkutan. Tokoh atau pelaku cerita menceritakan keadaan dirinya kepada pembaca. Dalam novel ini hampir tidak ada data yang menunjukkan pengenalan tokoh dengan cara membicarakan diri sendiri. Namun ia mengenalkan dirinya dengan pembicaraan atau pernyataan yang di nilai oleh tokoh lain. Jadi pengembangan rupa, watak atau pribadi pelaku melalui jalan diungkapkan oleh tokoh lain.
Cara berfikir seorang tokoh dalam menghadapi masalah serta pemecahannya, dapat dipergunakan untuk mengenali watak atau prilakunya. Sebagaimana layaknya manusia, setiap tokoh cerita memiliki jalan pikiran yang berbeda-beda. Data berikut ini dapat di amati dan di analisis untuk mengenali watak tokoh berdasarkan jalan pikirannya.
”in-na sholati wanusuki wamahyaya wa mama...” delisa kesulitan melanjutklan hafaln bacaan shalatnya. Delisa terpejam. Tangannyya menjawil-jawil rambut ikalnya..” wama-ma- wama- wamaa...” ”wa macet nih yee..!”aisyah yang sedang bermain kgundu bersama aisyah tertawa cekikikan. (HSD:13)
”Ustad, Delisa sudah melakukan apa yang ustad bilang dua hari yang lalu..”
”yang mana?” ustad Rahman bertanya sambilmenghapus papan tulis. Lupa!
”yang bilang ke ummi! Kan ustad yang bilang: ’nah coba kalian katakan kepada ummi masing-masing. Nanti kalau umminya sampai menangis, ustad beri hadiah!” Delisa persisi menirukan suara ustad Rahman waktu itu. Amat menggemaskan caranya meniru.
Ustad rahman tertawa. dia ingat sekarang. Soal kata-kata : aku mencintai ummi karena Allah. Dia memang bilang itu dua hari yang lalu. Menyuruh murid TPAnya bilang seperti itu kepada umminya masing-masing. Itu sunnah rosul. Kalau kalian bilang kepada seseorang yang kalian sayangi karena Allah.
”bahkan kak fatimah, kak zahra, dan kak aisyah juga ikut menangis..” delisa nyengir m,elaporkan.
Berdasarkan dialog antara tokoh Delisa dan Ustad rahman. Delisa mengenalkan dirinya bahwa dia selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh gurunya . delisa juga mem[unyai kebiasaan bertanya dan suka mempunyai kebiasaan memainkan rambut kritingnya jika ia merasa lupa denga sesuatu.
Pengembangan rupa, watak atau pribadi pelaku melalui pembicaraan tokoh tentang dia.
Keterlibatan beberapa tokoh dalam cerita, dapat di manfaatkan oleh pengarang untuk mendeskripsikan watak salah satu tokoh. Dialog yang terjadi di antara beberapa tokoh, dapat memberikan informasi watak salah satu tokoh. Hal semacam ini dapat di amati dalam kutipan berikut:
Data(1)
Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain. Delisa memang anak yang banyak bertanya. Meskipun sering bandel, delisa memiliki pola pikir yang berbeda dengan anak-anak yang seumurannya. Membuat orang dewasa disekitarnya terkadang bernya ”kok bisa ya?”.
Delisa suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail dengan baik. Dan pandai sekali menghubungkan sesuatu__entah itu berbagai kejadian, atau hanyamendengar kalimat orang-orang yang didengarnya. Cara berpikir delisa amat lateral. Dia berpikir yang berbeda. (HSD:11)
Data(2)
sophi kembali. membawa selembar kertas isian formulir rumah sakit. Menyerahkannya dengan pensil dan alas papan. Delisa menatapnya. Memegang kertas itu. Ia tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi delisa pernah melihat formulir ini. I pernah melihat kak Fatimah mengisinya.
“ini namanya kertas pendaftaran. Kak Fatimah mau ikut PMR. kakak Fatimah mengisikan nama.. alamat… apa saja tentang kak Fatimah!” kak Fatimah menjelaskan waktu delis bertanya.
“Ngapain pula kamu Tanya-tanya.. paling juga gak ngerti kak aisyah jelasin ini!” itu waktu aisyah pulang membawa formulir tari samannya, seperti biasa ribyt dengan delisa. Tetapi kak Zahra berhati baik menjelaskannya. Lebih detail disbanding penjelasan kak Fatimah.
Delisa menatap kertas itu, beralih memandang sophi. Sophi mengangguk. Membantu delisa memegang pensilnya dengan tangan kirinya (delisa memang kidal menulisnya; meski normal mengerjakan pekerjaan lainnya).
“isilah sayang”.
Delisa tak tahu apa arti kolom disebelah kirinya. Name? birthday? Sex? Address? Ia hanya ingat ucapan kak Fatimah dan kak Zahra. Maka ia sembarang mengisinya. Menulis namanya, menulis alamat mereka, menulis nama SDnya, menulis nama ummi dan abinya, menulis nama bu guru nur manulis nama ustad rahman, menulis nama tiur, bahkan menulis warna kesukaannya. Menulis apa saja, hingga semua kolom pertanyaan penuh sampai bawah.
Sekacau apapun urutan tulisan delisa. Semua informasi itu berguna sekali. Sophi tersenyu senang melihatnya. Segera siang itu juga, semua data itu bergabung dengan ribuan korban selamat lainnya dipusat informasi banda aceh. (HSD: 125-127)
Jika kita tinjau dari penggabungan data diatas kita dapat mengetahui bahwa hasil percakapan antara delisa dan dokter sophi menunjukkan bahwa doktersophi berkepribadian sabar dan penyayang. Sedangkan delisa sendiri adalah sosok anak yang cerdas yang mempunyai daya ingat yang tinggi. Dia menyayangi orang disekelilingnya. Dia tak pernah melupakan suatu apaun bila itu sudah ia lalui.
Penggambarang rupa, watak atau pribadi pelaku melalui reaksi yang di berikan tokor-tokoh lain terhadapnya.
Cara semacam ini juga di pakai oleh pengarang untuk mendeskripsikan watak tokohnya. Hal ini dapat di amati dalam kutipan beriut:
”Ustad, Delisa sudah melakukan apa yang ustad bilang dua hari yang lalu..”
”yang mana?” ustad Rahman bertanya sambilmenghapus papan tulis. Lupa!
”yang bilang ke ummi! Kan ustad yang bilang: ’nah coba kalian katakan kepada ummi masing-masing. Nanti kalau umminya sampai menangis, ustad beri hadiah!” Delisa persisi menirukan suara ustad Rahman waktu itu. Amat menggemaskan caranya meniru.
Ustad rahman tertawa. dia ingat sekarang. Soal kata-kata : aku mencintai ummi karena Allah. Dia memang bilang itu dua hari yang lalu. Menyuruh murid TPAnya bilang seperti itu kepada umminya masing-masing. Itu sunnah rosul. Kalau kalian bilang kepada seseorang yang kalian sayangi karena Allah.
”bahkan kak fatimah, kak zahra, dan kak aisyah juga ikut menangis..” delisa nyengir melaporkan.
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Berdasar dialog antara tokoh delisa dan ustad rahman, delisa menunjukkan bahwa dirinya akan melakukan apapun yang dianjurkan gurunya. Buktinya ia mempraktekkan perkataan ustad rahman dan menirukannya dengan apik hingga membuat ustad rahman terpingkal.
Tak hanya itu banyak orang yang menagumi delisa. Dia sungguh luar biasa. Meski ia mendapat musibah yang begitu dahsyat namun ia selalu berbesar hati. Entah darimana sikap itu. Delisa seolah tumbuh menjadi orang dewasa bahkan bsa mengalahkan abinya yang masih terkungkung dalam buaian kesedihan. Dan delisa juga mampu menyadarkan salah satu prajurit untuk menjadi muallaf karena keajaiban yang ia dapatkan.
Macam-macam latar atau seting
Novel Hafalan Shalat Delisa karya tere liye. pada dasarnya menggunakan beberapa macam atau setting. Latar atau seting tersebut di pakai untuk melatari peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam cerita. Selain latar fisikal dan latar social, pengarang juga menampilkan latar psikologi. Untuk membuktikan adanya latar-latar yang di maksud, peneliti akan menampilkan beberapa data berikut ini:
Latar fisikal
Latar fisikal adalah semua benda fisik yang melatari semua peristiwa dala cerita. Benda-benda yang dapat di kategorikan sebagai settinga fisikal di antaranya: suatu daerah, bangunan-bangunan fisik, serta benda-benda atau alat-alat yang ada di dalamnya. Untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut tentang latar fisikal ini, dapat di amati pada data berikut:
Empat hari empat malam, delisa belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Tetp berbaring dan tak bergerak diatas ranjang. Hanya suara beep lemah peralatn medis disekitarnya yang menunjukkan delisa masih bernafas dengan baik. Masih ada kehidupan disana.
Abi sekarang melangkah patah-patah menuju lokasi bekas rumah mereka. Abi tiba di lhok nga beberapa menit lalu. setelah membujuk kesana kemari akhirnya bisa menumpang holikopter tentara tadi pagi di banda aceh.
Tiba dilokasi bekas rumah mereka hanya tinggal pondasi setinggi mata kaki yang tersisa.... (HDS: 106)
Keluarga abi usman memang bahagia. Apalagi yang kurang? Empat anak salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik bertetangga dan bersahaja. Apa adanya mereka tinggal di rumah yang sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok nga memang tepat ditubir pantai. (HSD: 09)
Pengarang melukiskan latar fisik cerita melalui pendiskripsiannya. Dimulai bahwasannya latar yang ada yaitu dirumah sakit untuk merawat delisa ketika ia sakit setelah terseret ombak maut tsunami beberapa minggu lalu dan rumah delisa sendiri yang tepatnnya berada di Lhok Nga. Didalam rumah yang sederhana disanalah tempat mereka berteduh dan beraktifitas.
Latar social
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa latar social dalam cerita fiksi mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok social dan sikapnya , adat kebiasaan, cara hidup maupun bahasa yang melatari peristiwa. Demikian halnya dengan novel mahligai di atas pasir. Pengarang menggunakan latar social dalam proses penciptaan jalinan peristiwa. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas keterlibatan latar social dalam novel, berikut ini peneliti tampilkan beberapa bukti yang di kutip dari novel yag bersangkutan:
Keluarga abi usman memang bahagia. Apalagi yang kurang? Empat anak salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik bertetangga dan bersahaja. Apa adanya mereka tinggal di rumah yang sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok nga memang tepat ditubir pantai. (HSD: 09)
Bukankah sudah dikatakan sebelumnya kalua delisa memang ngetop di lhok nga. Kebiasaan berkaliling dari tenda ketenda lain membuatnya dikenal. Apalagi melihat tampangnya yang amat berbeda, semua orang seperti berkepantingan untuk menjenguknya. ”kabar sakitnya delisa menjadi headline dikota lhok nga, usman.” itu bercandaan wak burhan. Delisa nyengir tidak tahu apa maksudnya. (hsd: 223)
Data tersebut menggambarkan seting sosial berua beberapa keterangan tentang beberapa perokohan yaitu menjelaskan keluarga abi usman memang sangat bersahaja dan bertetangga.
Dan yang paling berkesan adalah putri bungsunya yang mempunya kebiasaan berkeliling dari tenda ke tenda hanya untuk menjenguk dan sekedar bermain dengan para korban. Kebiasaanya bersosial seperti itu membuatnya terkenal dimana-mana.
Latar psikologis
Latar psikologi adalah lingkungan serta benda-benda yang ada di dalamnya yang mampu menuansakan makna tertentu dan mampu mengajak emosi pembaca. Berkaitan dengan hal itersebut, berikut ini peneliti sajikan beberapa data yang di kutip dari novel mahligai di atas pasir.
Data
Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain. Delisa memang anak yang banyak bertanya. Meskipun sering bandel, delisa memiliki pola pikir yang berbeda dengan anak-anak yang seumurannya. Membuat orang dewasa disekitarnya terkadang bernya ”kok bisa ya?”.
Delisa suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail dengan baik. Dan pandai sekali menghubungkan sesuatu__entah itu berbagai kejadian, atau hanyamendengar kalimat orang-orang yang didengarnya. Cara berpikir delisa amat lateral. Dia berpikir yang berbeda. (HSD:11)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Peristiwa yang menggetirkan hati usman membuat ia lemah dan tetunduk kepada tuhannya. Menhgapa ia mengalami hal yang seperti ini. Ia merasa sedih dan mengadu jika ia sekarang harus berperan menjadi ibu bapak dan kakak bagi delisa.
Analisis Novel Hafalan Shalat Delisa
Sudut pandang adalah tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu. Sudut pandang ini tidak diartikan sebagai penglihatan atas suatu barang dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu posisi tertentu. (Prof. DR. Gorys Keraf).
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Sudut pandang merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya. Untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. (Boot, dalam Stevick, 1967:89).
Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan yang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
MACAM-MACAM SUDUT PANDANG
Bennison Gray membedakan pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga.
Pencerita orang pertama (akuan).
Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Ini disebut juga gaya penceritaan akuan.Gaya penceritaan akuan dibedakan menjadi dua, yaitu
Pencerita akuan sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Ustad aku sudah melakukan apa yang ustad bialang dua hari yang lau, aku sudah menagatakan aku cinta ummy karena Allah.
Aku harus bisa karena aku bisa mendapatkan ponten sembilan untuk pelajaran matematika ketika di ajar bu nur dulu.
”ummi aku di ganggu kak aisyah lagi..”
Pencerita akuan tak sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Aku harus bisa karena aku bisa mendapatkan ponten sembilan untuk pelajaran matematika ketika di ajar bu nur dulu.
Aku sudah siap dan tidak terbolak – balik lagi dalam membaa do’a.
”Bukannya aku tidak mau ayah tapi aku sudah kenyang”
Pencerita orang ketiga (diaan).
Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencnerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu
Pencerita diaan serba tahu, yaitu pencerita diaan yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
Dia tak dapat membendung air mata itu, setelah anaknya mengatakan kalimat yang menakjubkan.
Dia dia memang sosok yang amat sangat berbeda dari teman-temannya. Dia suka bermain sepak bola dan marah bila hanya dijadikan sebagai kipper,
Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.
”...dia hanya ingin mengatakan kalau dia cinta ummi dan abi karena Allah”.
Dia seperti kehilangan kesadaran. Dan dia sudah satu minggu tidak makan dan minum. Di tehempas hujan dan tersengat matahari namun dia masih bisa bertahan hidup.
Mengapa dia harus pergi sepulang sekolah?
”Dia ingin melihat kesibukan-kesibukan di sanggar dan latihan-latihan sebelumnya. (HSD: 284).
Point of view berhubungan dengan siapakah yang menceritakan kisah dalam novel. Cara yang dipilih oleh pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Hal ini disebabkan, watak dan pribadi si pencerita (pengarang) akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. Setiap orang punya pandangan hidup, cara berfikir, kepercayaan, maupun sudut emosi yang berbeda-beda. Penentuan pengarang tentang soal siapa yang akan menceritakan kisah akan menentukan bagaimana sebuah cerpen bisa terwujud. Sudut pandang pada intinya adalah visi pengarang. Sudut pandang yang diambil pengarang tersebut berguna untuk melihat suatu kejadian cerita. Tentunya harus dibedakan antara pandangan pengarang sebagai pribadi dengan teknis dia bercerita dalam cerpen.
Hal ini menyangkut bagaimana pandangan pribadi pengarang akan bisa diungkapkan sebaik-baiknya sehingga pembaca dapat menikmatinya. Untuk ini, ia harus memilih karakter mana dalam cerpennya yang disuruh bercerita. Dalam hal ini sudut pandang memegang peranan penting akan kejadian-kejadian yang akan disajikan dalam cerpen, menyangkut masalah ke mana pembaca akan dibawa, menyangkut masalah kesadaran siapa yang dipaparkan.
Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Hubungan sudut pandang dengan tokoh
1. Watak tokoh dapat diketahui dari sudut pandang
2. Untuk mengetahui latar belakang sosial budaya
3. Bisa membuat tokoh antagonis dan protagonist
Hubungan latar dengan sudut pandang
Melalui sudut pandang kita bisa mengetahui latar atau suasana apa yang akan digunakan oleh pengarang.
Analisis Gaya Bahasa Hafalan Shalat Delisa
Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya.
Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perulangan, pertentangan, perbandingan, dan pertautan.
Gaya merupakan cara pengungkapan pengarang dalam menyampaikan gagasan dengan menggunakan media bahasa yang indah atau bagaimana pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan dalam hasil ciptaannya. Gaya bahasa adalah suatu pengaturan kata-kata dan kalimat-kalimat yang dapat mengekspresikan ide, gagasan, dan perasaan serta pengalaman batin pengarang.
Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri atas klimaks, antiklimaks, antitesis dan repetisi, sedangkan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dibagi menjadi dua yaitu 1) gaya bahasa retoris, 2) gaya bahasa kiasan, yang terdiri dari simile, metafora, personifikasi, sarkasme dan Inuendo. Dari kedua gaya bahasa tersebut, gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna lebih dominan di gunakan. Gaya bahasa persamaan tampaknya oleh pengarang di maksudkan untuk memperindah dan untuk lebih menekankan makna dalam kaitannya dengan ekspresi? menggugah emosi pembaca? demikian pula gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat relatif sedikit di gunakan. Gaya bahasa tersebut untuk menjelaskan ide atau inti dari cerita dalam karangannya.
Dalam penggunaan gaya bahasa, pengarang tidak menggunakan secara berlebihan, artinya gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang ini bersifat sedikit. Tetapi dalam penggunaan gaya bahasa yang sedikit ini, pengarang mampu memunculkan suatu karya sastra yang mudah dinikmati tanpa harus menggunakan pemahaman lebih dalam. Analisis gaya bahasa ini lebih banyak menggunakan bahasa sehari-hari, karena dalam cerpen ini yang menjadi obyek si pengarang dalam karyanya adalah kehidupan sosial atau kehidupan masyarakat tertentu diwilayah tertentu.
Jangan salah, meski masih gelap seperti ini, kehidupan telah dimulai. (HSD: 16)
Kata-kata delisa ibarat ombak yang mendesau hati ummi dan kakak-kakaknya. Wajah polos yang mempunyai kalimat yang indah luar biasa. (HSD :55)
Dia memang ibarat binatang buas dalam sebuah sirkus. Jika mendapat kesempatan, binatang buas itu akan memperlihatkan sifat aslinya...(HSD. 216).
Siang malam menghantuinya dimanapun dia berada...(HSD: 26)
Ditatapnya foto keluarga Sophi dengan kerinduan getir….(HSD:134)
Pada kutipan di atas merupakan gaya bahasa yang digunakan pengarang yang tak lebig gaya bahasa yang bersifat smile, smile adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat langsung dan implisit dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keimplisitan.
SINOPSIS
Buku yang indah ditulis dalam kesadaran ibadah, buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian mencintai anugerah dan musibah, mencintai indahnya ibadah.
Novel ini disajikan dengan gaya bahasa yang sederhana namun sangat menyentuh jiwa. Cerita tentang seorang gadis kecil berumur enam tahun yang mencoba menghafal bacaan shalat dengan fashih. Dalam ke inginannya yang melambung tinggi agar hafal dan lulus dari hafalannya ia menggunakan berbagai cara untuk mempermudah hafalannya. Tak punya lelah untuk bertanya kemari kepada setiap mereka yang dewasa dan lebih mengetahui tentang bacaan shalat.
Hingga suatu ketika ia berangkat untuk tes ujian kali ini ia menghadap guru dan berniat untuk shalat yang pertama kalinya. Dengan mengucap takbirotul ikhram tiba-tiba gelombang tsunami menyapu bersih kota banda aceh.
Smua keluarga delisa hanyut tak terselamatkan kecuali delisa yang selama satu minggu terperangkap didalam semak belukar. Tak ada yang menolongnya. Ia takmakan dan tak minum, tapi masih bisa bertahan hidup. Setelah seminggu ada salah satu perajurt yang hendak mengefakuasi korban tsunami. Dan disemak belukar itu ia melihat sem,buratan cahaya. Ketika ia mendekati ternyata tubuh gadis kecil yang terperangkap dan masih hidup. Dialah delisa yang masih ingin mengerjakan shalat dalam keadaan yang memprihatinkan. Namun hafalan delisa kini telah lenyap. Ia tak hafal sama sekali bacaan-bacaan itu kecuali takbirotul ikhrom. Lantas apakah delisa m,asih hidup? Dan apakah ingatan hafalannya akan kembali? Baca Novel Hafalan Shalat Delisa, key!.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV Sinar Baru Algesindo
Nurgiantoro, burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta. Jakarta: PT University Press
Wellek, rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia
Rabu, 21 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar