ARTIKEL
AKU TAMPAK LEBIH MANIS
DENGAN SENYUMAN
Tahukah engkau wahai sahabatku? Bahwa senyum adalah terapi paling ideal untuk kecantikan. Kamu akan tampak lebih manis dengan sedikit tarikan tulus dari bibirmu. Senyum yang tulus merupakan “make up” paling ampuh. Kita tidak perlu membeli produk mahal yang bisa menguras kantong kita dan membuat kita terpaksa puasa berbulan-bulan demi membeli alat kecantikan yang tak jelas khasiatnya. Dalam penelitian menyatakan bahwa senyum itu membuat otot wajah lebih elastis dan awet muda. Kenapa? Karena waktu ketika kita senyum atau tertawa tubuh ini akan mengeluarkan hormone endorphin. Hormone semacam “morfin” yang bisa membuat tubuh rileks dan tenang. Bukan itu saja ternyata tersenyum juga membuat orang tidak gampang sakit. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu ilmuwan asal barat mengatakan bahwa hasil penelitian terhadap orang-orang yang tersenyum dan tertawa adalah system imunitas atau kekebalan tubuhnya meningkat hingga 40%. Senyum juga menjadi poin terpenting yang tidak boleh diremehkan dalam menjalin suatu relasi persahabatan yang sukses.
Tersenyum atau tertawa yang wajar itu laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat besar sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku”.
Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah “ janganlah engkau banyak tetawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga bahwa. “ senyummu didepan saudaramu adalah sedekah”.
Orang arab senang menuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut merekam perangai yang demikian itu merupakan tanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.
Wajah nan berseri suka memberi
Dan, tentu bersuka cita saat dipinta
Pada dasarnya Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak menegnal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langah yang terarah.
Abu Tamam mengatakan,
“Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku,
Ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan,
Canda kadang menjadi serius,
Namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang”
Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang racau balau, dan,
{Sesudah itu ia bermuka masam dan merengut.} (QS. Al-Muddatsir: 22)
Dalam Faidhul Khatir, Ahmad Amin menjelaskan demikian. “orang yang mampu tersenyum dalam menjalani hiidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain”.
Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah tersenyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu kesulitan; melihatnya lalu tersenyum, menyiasati lalu tersenyum, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau. Sekali ia menjumpai suatu kesulitan ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai suatu yang amat sangat besar yang akan memberatkannya. Dan yang seperti itulah yang acapkali membuat semangat orang semakin menurun dan asanya berkurang. Bahkan tak jarang orang yang seperti ini berdalih dengan kata-kata “ seandainya…” “kalau saja…” dan “seharusnya..” orang seperti ini sangatlah nista. Bukan zamannya yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya. Bagaimana tidak, iamenginginkan kebehasilan dalam menjalani kehidupan ini, tetapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat orang yang hendak berjalan tetapi selau dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya ia hanya menuggu langit menurunkan emsnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.
Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata “Langit selaluberduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”
Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda takkan pernah mengembalikannya”
Orang berkata “ Langitku yang ada didalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya.bagaimana mungkin jiwaku sanggup menegmbangkan senyum manisnya
Maka akupun berkata, “ tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya…
Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selau berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar. Nah,,,senyuuuum… say ciiiiiis guys!! Tersenyumlah untuk mengahadapi masa depan!.
Buah Tangan :
Bardul Yad S.M el_Mooja
{Santriwati Pon-Pes Darussalam Sengon Jombang}
Kamis, 03 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar