KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa dengan rahmat dan karunianya tugas makalah kami dapat terselesaikan dengan baik tanpa halangan atau kendala apapun.
Makalh ini membaas tentang berbicara sebagai suatu cara bewrkomunikasi, dan untuk mengembangkan daya kretif kami dalam mengatasi berbagai pokok bahasan.
Kepada semua pihak yang berjasa atas selesainya makalah ini kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jombang, Oktober 2009
penyusun
A.BERBICARA SEBAGAI SUATU CARA BERKOMUNIKASI
Manusia adalah makhluk social, dan tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan social, suatu tiondakan dan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan serta menyatujui sesuatu pendirian atau keyakinan.oleh karena itu maka didalam tindakan social haruslah terdapat elemen-elemen yang umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungkan sesame anggota masyarakat maka dipeerlukan komunikasi.
Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam nkelompok-kelompok dengan jalan mrenghablurkan konsep-konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan tersebut tidak aka nada serta dapat bertahann lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa. Dengan pewrkataan lain: masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.
Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasisangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual kita. Dalam system inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang tersebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mentral dan emisional dengan anggota-anggota lainnya.
Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang, dan menekankan hybungan-hubungan yang bersifat. Dua arah, memberi dan menerima. (Powers, 1954 : 5-6)
Dari pembicaran diatas jelaslah kita betapa besarnya peranan bahasa dalam kehidupan manusia. Sebelum kita memperbincangkan secara terperinci fungsi bahasa maka ada baiknya kita singgung pula sepintas kilas prinsip-prinsip dasar bahasa. Hal ini sangat penting diketahui serta dipahami oleh para guru bahasa yang selalu berhadapan dengan anak didiknya.
Professor Anderson mengemukakan adanya delapan prinsip (linguistik) dasar, yaitu:
Ø Bahasa adalah suatu sistem;
Ø Bahasa adalah vocal (bunyi ujaran);
Ø Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suku (arbitrary symbols);
Ø Setiap bahasa bersifat unik; bersifat khas
Ø Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan
Ø Bahasa adalah alat komunikasi
Ø Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada
Ø Bahasa itu berubah-ubah ( Anderson: 1972;35-36 );
Seorang ahli lain, M. Dougles brown setelah menelaah bahas adari enam buah sumber, membuat rangkuman sebagai berikut :
(a) Bahasa adalah system yang sistematis , barangkali juga untuk system generatif.
(b) Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suku ( symbol-simbol ).
(c) Lambang-lambang tersebut terutama sekali bersifat vocal, tetapi mungkin juga bersifat visual.
(d) Lambang-lambang itu mengandung makna-makna konvensional.
(e) Bahasa dipergunakan sebagai komunikasi.
(f) Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa ( speech community ) atau budaya.
(g) Bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia.
(h) Bahasa diperoleh oleh semua bangsa/ orang dengan cara yang hampir/ banyak bersamaan; bahasa dan belajar bahasa mempunyai cirri-ciri kesementaraan ( universal characteristic). (Brown, 1980 : 5)
Dari kedua sumber tersebut, walaupun dengan kata-kata yang berbeda disana sini, dapat kita lihat banyaknya persamaan pandang dan gagasan mengenai bahasa (language) itu.
Dari kedua sumber mengenai prinsip-prinsip dasar bahasa yang yeng telah kita kemukakan di atas, mari kita pusatkan perhatian kita pada butir
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan atau tindakan serangkaian unsure yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan penyimak dan pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan kimunikasi atau speech act yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dslsm hsl ini harus kit stekasnksn konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mempunyai implikasi-implikasi terhadap produksi-produksi dank onperhensi terhadap penghasilan dan pemahaman suatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderumg mengerahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya ang pokok.(Brown,1980 : 193”-4).
Untuk menunjukkan hakekat purposive dari komunikasi itu, Halliday mempergunakan istilah fungsi. Dia memang telah mempergunakan banyak waktu untuk mengadakan penelitian serta penjelajahan mengenai hal itu, da akhirnya dapat merangkumkan adanya tujuh jenis fungsi bahasa, yaitu:
1) Fungsi instrumental bertindak untuk menggeerakkan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertent terjadi. Seperti ucapan:
“para guru beranggapan bahwa kamu salah”
“jangan pegang
2) Fungsi regulasi atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa. Ementara fungsi seperti iru terkadang sulit dibedakan antara fungsi instrumental dan regulasi. Namun dapat dibedakan bahwa fungsi regulasi lebih mengedepankan pengaturan. Contoh :
instrumental “saya menggapmu bersalah dan menghukum kalau selama tiga tahun dipenjara”.
Regulasi “demi keadilan untuk memperbaiki tindakanmu yang tidak bermoral maka kamu akan disekap dipenjara selama tiga tahun”.
3) Fungsi represintasional adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pegetahuan, menjelaskan atau mellaporkabn dalm pengertian menggambarkan realitas yang terlihat oleh seseorang.
Contoh:
“matahari panas”
“presiden berpidato tadi malam”.
4) Fungsi interakaksional bahasa bertindak untuk menjamin pemeluharaan sosial.
5) Fungsi personal membolehkan seorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung daam hati sanubarinya.
6) Fungsi heuristic melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan, mempelajari lingkungan. Fungsi heuristic seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban.
7) Fngsi imajinatif bertindak untuk menciptakan system-sistem atau gagasan-gagasan imajiner.
Menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti. Dalam penggunaannya, keempat keterampilan tersebutsering kali berhubungan satu sama lain. (Anderson, 1972 :3).
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atrau tindakan-tindakan serangkaian unsure-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengadung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dalam hal ini harus kita tekankan pentingnya konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mencapai implikasi-implikasi terhadap produksi dan komprehensi, terhadap penghasilan dan pemahaman sesuatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderung mengarahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya yang pokok, tujuan utamanya. ( Brown, 1980: 193-4.). setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistic: disatu pihak dia bertindak sebagai pembicara dan dipihak lain sebagai penyimak. Dalam komunikasi yang lancer , proses perubahan dari pembicara menjuadi penyimak dan dari penyimak menjadi pembicara begitu cepat, terasa sebagai suatu peristiwa biasa dan wajar, yang bagi orang kebanyakan tidak perlu dipermasalahkan apalagi dianalisis. Lain halnya bagi para ahli dalam bidang linguistic dan pelajaran bahasa. Bila kita analisis”suatu peristiwa bahasa” atau “ alanguage event” yang terjadi antara si pembicara (speaker ) si pendengar atau penyimak.
Bahasa memiliki peranan penting dalam berkomunikasi. Hal tersebut terjadi karena sebagai mekhluk social, manusia selalu berkomunikasi dengan oranmg lain sebagai wujud interaksi. Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melaui suatu hubungan yang teratur; belajar memembaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahsa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Daftar Rujukan: Tarigan, Henry Guntu
1. Konsep Dasar Berbicara
Kemampuan berbicara siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah. Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi.
Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni :
(1) berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal,
(2) berbicara adalah proses individu berkomunikasi,
(3) berbicara adalah ekspresi kreatif,
(4) berbicara adalah tingkah laku,
(5) berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,
(6) berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman,
(7) berbicara sarana memperluas cakrawala,
(8) kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat,
(9) berbicara adalah pancaran kepribadian. (Logan dkk., 1972:104-105).
2. Jenis-jenis Berbicara
Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain : diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah, dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan minimal ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara. Kelima landasan tersebut adalah :
(1) situasi,
(2) tujuan,
(3) metode penyampaian,
(4) jumlah penyimak, dan
(5) peristiwa khusus.
Mari kita perbincangkan setiap landasan tersebut,
1) Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Jenis-jenis kegiatan berbicara informal meliputi :
(1) tukar pengalaman,
(2) percakapan,
(3) menyampaikan berita,
(4) menyampaikan pengumuman,
(5) bertelepon, dan
(6) memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 : 108).
Sedangkan kegiatan berbicara yang bersifat formal meliputi :
(1) ceramah,
(2) perencanaan dan penilaian,
(3) interview,
(4) prosedur parlementer, dan
(5) bercerita (Logan, dkk., 1972 : 116).
2) Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasi-kan, menstimulasikan, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya.
3) Metode Penyampaian
(1) penyampaian secara mendadak,
(2) penyampaian berdasarkan catatan kecil,
(3) penyampaian berdasarkan hafalan, dan
(4) penyampaian berdasarkan naskah.
4) Jumlah Penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, beberapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok besar).
5) Peristiwa Khusus
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa, atau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan, pemberian hadiah. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat digolongkan atas enam jenis,
(1) pidato presentasi,
(2) pidato penyambutan,
(3) pidato perpisahan,
(4) pidato jamuan (makan malam),
(5) pidato perkenalan, dan
(6) pidato nominasi (mengunggulkan). (Logan dkk., 1972 : 127).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar