CIIMUXZ 'ALAIK

CIIMUXZ 'ALAIK
INSPIRING WOMAN

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Label

Entri Populer

SUPERMAN JA NGIKUT GUS DUR... N HOW ABOUT YOU?

SUPERMAN JA NGIKUT GUS DUR... N HOW ABOUT YOU?

Rabu, 28 April 2010

nyanyian derita

Dendanganku orang tuamu, wahai anak bangsa!!!

Cloud Callout: Nyanyian usang dari simiskin Tak sedikitpun menggempur hati mereka para jutawan Meski hati berkawah blatung dari makanan membusuk Tetap saja menjadi narasi klasik bagi penikmat dunia


Aku relakan hari kemarin

Meniti lalu resah dan lelah

Karena tekadku dalam batin

Menanti esok lelah dan cerah

Aku biarkan hati merana

Melangkah lalu bimbang dan kaku

Karena hasratku di dalam dada

Menanti esok kasih dan lagu

Tetapi semua hari terbenam dan lalu

Rinduku habis termakan umur

Dan esok lewat,satu demi Satu

Jauhkan nantiku kemimpi dan udzur

Wahai adik dan kawanku sekalian…!!

Inilah potret bapak kita yang sedang menunggu nasib baik menghampirinya

Kurus kerontang, hingga kusam kulitnya tak pernah ia pedulikan

Demi sesuap nasi dan seutas uang teruntuk keluarga tersayang

Tiada lelah untuk berusaha dalam pencarian

Dan selalu berharap tak ada lagi nasib kesekian seperti dirinya

Kepada kita, anak bangsa agar menjadi pribadi yang unggul dan berkarya

Jangan kau biarkan orang tua kita merana dalam harapan semu kesuksesan bagi anak-anaknya

Mari kita wujudkan dan angkat derajat mereka dengan sebuah ketekunan dan kesuksesan dalam berakhlak dan berprestasi sebagai santri dan siswa Darussalam!!

(Bardul Yad S.M El_Moojaa)

Senin, 12 April 2010

"PP DARUSSALAM TAK PERNAH LEPAS DENGAN BARONGSHAI"
penasaran??????????? ikuti edisi berikutnyoo.................!!

Minggu, 11 April 2010

berbicara sebagai sarana komunikasi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa dengan rahmat dan karunianya tugas makalah kami dapat terselesaikan dengan baik tanpa halangan atau kendala apapun.

Makalh ini membaas tentang berbicara sebagai suatu cara bewrkomunikasi, dan untuk mengembangkan daya kretif kami dalam mengatasi berbagai pokok bahasan.

Kepada semua pihak yang berjasa atas selesainya makalah ini kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jombang, Oktober 2009

penyusun

A.BERBICARA SEBAGAI SUATU CARA BERKOMUNIKASI

Manusia adalah makhluk social, dan tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan social, suatu tiondakan dan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan serta menyatujui sesuatu pendirian atau keyakinan.oleh karena itu maka didalam tindakan social haruslah terdapat elemen-elemen yang umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungkan sesame anggota masyarakat maka dipeerlukan komunikasi.

Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam nkelompok-kelompok dengan jalan mrenghablurkan konsep-konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan tersebut tidak aka nada serta dapat bertahann lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa. Dengan pewrkataan lain: masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.

Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasisangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual kita. Dalam system inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang tersebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mentral dan emisional dengan anggota-anggota lainnya.

Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang, dan menekankan hybungan-hubungan yang bersifat. Dua arah, memberi dan menerima. (Powers, 1954 : 5-6)

Dari pembicaran diatas jelaslah kita betapa besarnya peranan bahasa dalam kehidupan manusia. Sebelum kita memperbincangkan secara terperinci fungsi bahasa maka ada baiknya kita singgung pula sepintas kilas prinsip-prinsip dasar bahasa. Hal ini sangat penting diketahui serta dipahami oleh para guru bahasa yang selalu berhadapan dengan anak didiknya.

Professor Anderson mengemukakan adanya delapan prinsip (linguistik) dasar, yaitu:

Ø Bahasa adalah suatu sistem;

Ø Bahasa adalah vocal (bunyi ujaran);

Ø Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suku (arbitrary symbols);

Ø Setiap bahasa bersifat unik; bersifat khas

Ø Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan

Ø Bahasa adalah alat komunikasi

Ø Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada

Ø Bahasa itu berubah-ubah ( Anderson: 1972;35-36 );

Seorang ahli lain, M. Dougles brown setelah menelaah bahas adari enam buah sumber, membuat rangkuman sebagai berikut :

(a) Bahasa adalah system yang sistematis , barangkali juga untuk system generatif.

(b) Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suku ( symbol-simbol ).

(c) Lambang-lambang tersebut terutama sekali bersifat vocal, tetapi mungkin juga bersifat visual.

(d) Lambang-lambang itu mengandung makna-makna konvensional.

(e) Bahasa dipergunakan sebagai komunikasi.

(f) Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa ( speech community ) atau budaya.

(g) Bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia.

(h) Bahasa diperoleh oleh semua bangsa/ orang dengan cara yang hampir/ banyak bersamaan; bahasa dan belajar bahasa mempunyai cirri-ciri kesementaraan ( universal characteristic). (Brown, 1980 : 5)

Dari kedua sumber tersebut, walaupun dengan kata-kata yang berbeda disana sini, dapat kita lihat banyaknya persamaan pandang dan gagasan mengenai bahasa (language) itu.

Dari kedua sumber mengenai prinsip-prinsip dasar bahasa yang yeng telah kita kemukakan di atas, mari kita pusatkan perhatian kita pada butir Anderson yang keenam dan butir brown yang kedua-duanya mengatakan bahwa “bahasa dipergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi”.

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan atau tindakan serangkaian unsure yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan penyimak dan pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan kimunikasi atau speech act yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dslsm hsl ini harus kit stekasnksn konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mempunyai implikasi-implikasi terhadap produksi-produksi dank onperhensi terhadap penghasilan dan pemahaman suatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderumg mengerahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya ang pokok.(Brown,1980 : 193”-4).

Untuk menunjukkan hakekat purposive dari komunikasi itu, Halliday mempergunakan istilah fungsi. Dia memang telah mempergunakan banyak waktu untuk mengadakan penelitian serta penjelajahan mengenai hal itu, da akhirnya dapat merangkumkan adanya tujuh jenis fungsi bahasa, yaitu:

1) Fungsi instrumental bertindak untuk menggeerakkan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertent terjadi. Seperti ucapan:

“para guru beranggapan bahwa kamu salah”

“jangan pegang pisa itu!”

2) Fungsi regulasi atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa. Ementara fungsi seperti iru terkadang sulit dibedakan antara fungsi instrumental dan regulasi. Namun dapat dibedakan bahwa fungsi regulasi lebih mengedepankan pengaturan. Contoh :

instrumental “saya menggapmu bersalah dan menghukum kalau selama tiga tahun dipenjara”.

Regulasi “demi keadilan untuk memperbaiki tindakanmu yang tidak bermoral maka kamu akan disekap dipenjara selama tiga tahun”.

3) Fungsi represintasional adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pegetahuan, menjelaskan atau mellaporkabn dalm pengertian menggambarkan realitas yang terlihat oleh seseorang.

Contoh:

“matahari panas”

“presiden berpidato tadi malam”.

4) Fungsi interakaksional bahasa bertindak untuk menjamin pemeluharaan sosial.

5) Fungsi personal membolehkan seorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung daam hati sanubarinya.

6) Fungsi heuristic melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan, mempelajari lingkungan. Fungsi heuristic seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban.

7) Fngsi imajinatif bertindak untuk menciptakan system-sistem atau gagasan-gagasan imajiner.

Menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti. Dalam penggunaannya, keempat keterampilan tersebutsering kali berhubungan satu sama lain. (Anderson, 1972 :3).

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atrau tindakan-tindakan serangkaian unsure-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, suatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengadung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dalam hal ini harus kita tekankan pentingnya konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistic. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mencapai implikasi-implikasi terhadap produksi dan komprehensi, terhadap penghasilan dan pemahaman sesuatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderung mengarahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya yang pokok, tujuan utamanya. ( Brown, 1980: 193-4.). setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistic: disatu pihak dia bertindak sebagai pembicara dan dipihak lain sebagai penyimak. Dalam komunikasi yang lancer , proses perubahan dari pembicara menjuadi penyimak dan dari penyimak menjadi pembicara begitu cepat, terasa sebagai suatu peristiwa biasa dan wajar, yang bagi orang kebanyakan tidak perlu dipermasalahkan apalagi dianalisis. Lain halnya bagi para ahli dalam bidang linguistic dan pelajaran bahasa. Bila kita analisis”suatu peristiwa bahasa” atau “ alanguage event” yang terjadi antara si pembicara (speaker ) si pendengar atau penyimak.

Bahasa memiliki peranan penting dalam berkomunikasi. Hal tersebut terjadi karena sebagai mekhluk social, manusia selalu berkomunikasi dengan oranmg lain sebagai wujud interaksi. Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya kita melaui suatu hubungan yang teratur; belajar memembaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahsa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Daftar Rujukan: Tarigan, Henry Guntu

1. Konsep Dasar Berbicara

Kemampuan berbicara siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang. Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah. Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi.

Konsep dasar berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni :

(1) berbicara dan menyimak adalah suatu kegiatan resiprokal,

(2) berbicara adalah proses individu berkomunikasi,

(3) berbicara adalah ekspresi kreatif,

(4) berbicara adalah tingkah laku,

(5) berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari,

(6) berbicara dipengaruhi kekayaan pengalaman,

(7) berbicara sarana memperluas cakrawala,

(8) kemampuan linguistik dan lingkungan berkaitan erat,

(9) berbicara adalah pancaran kepribadian. (Logan dkk., 1972:104-105).

2. Jenis-jenis Berbicara

Bila diperhatikan mengenai bahasa pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain : diskusi, percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah, dan sebagainya.

Berdasarkan pengamatan minimal ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara. Kelima landasan tersebut adalah :

(1) situasi,

(2) tujuan,

(3) metode penyampaian,

(4) jumlah penyimak, dan

(5) peristiwa khusus.

Mari kita perbincangkan setiap landasan tersebut,

1) Situasi

Aktivitas berbicara terjadi dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara secara tak formal pula. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Jenis-jenis kegiatan berbicara informal meliputi :

(1) tukar pengalaman,

(2) percakapan,

(3) menyampaikan berita,

(4) menyampaikan pengumuman,

(5) bertelepon, dan

(6) memberi petunjuk (Logan, dkk., 1972 : 108).

Sedangkan kegiatan berbicara yang bersifat formal meliputi :

(1) ceramah,

(2) perencanaan dan penilaian,

(3) interview,

(4) prosedur parlementer, dan

(5) bercerita (Logan, dkk., 1972 : 116).

2) Tujuan

Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasi-kan, menstimulasikan, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya.

3) Metode Penyampaian

Ada empat cara yang bisa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain :

(1) penyampaian secara mendadak,

(2) penyampaian berdasarkan catatan kecil,

(3) penyampaian berdasarkan hafalan, dan

(4) penyampaian berdasarkan naskah.

4) Jumlah Penyimak

Komunikasi lisan melibatkan dua pihak, pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, beberapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok besar).

5) Peristiwa Khusus

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus, istimewa, atau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan, pemberian hadiah. Berdasarkan peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat digolongkan atas enam jenis,

(1) pidato presentasi,

(2) pidato penyambutan,

(3) pidato perpisahan,

(4) pidato jamuan (makan malam),

(5) pidato perkenalan, dan

(6) pidato nominasi (mengunggulkan). (Logan dkk., 1972 : 127).

Analisis puisi

Analisis Puisi

“ LUDAH YANG KERING”

Karya Andrinof A. Chaniago

Disusun untuk memenuhi

Tugas mata kuliah SEMANTIK

Dosen Pembina : Susi Darihastining, M.Pd


Disusun Oleh :

SITI MU’AWANAH

NIM : 086172

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

2010

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah nemberikan Rahmat Taufik serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah semantik yang merupakan salah satu syarat mengikuti UAS semester III Pridi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.

Sholawatserta salam tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang yakni agama islam.

Dengan tersusunnya makalah ”Analisis Puisi LUDAH YANG KERING karya Andrinof A Chaniago” ini. Penulis berharap semoga analisis ini bisa dipelajari dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

Ibu Susi Darihastining M,Pd, selaku pembimbing serta dosen pembimbing kuliah semantik

Untuk teman-teman saya yang telah memberi dorongan dan semangat kepada saya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Seperti pribahasa tiada gading yang retak yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.begitupun dengan makalah ini. Karena ketrbatasab kemampuan penulis, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, penulis mengharap segala saran dan kritik yang membangun.

Jombang, Januari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

HAL JUDUL ..............................................................................................................

KATA PENGANTAR................................................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................................

PUISI ”LUDAH YANG KERING”.........................................................................

PARAFRASE.............................................................................................................

PEMBAHASAN ”ANALISIS PUISI”......................................................................

BIOGRAFI.................................................................................................................

SIMPULAN................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................

LUDAH YANG KERING

Lihatlah!

Masih adakah hati yang berisi?

Ketika logika sudah berbau terasi

Ketika nurani kian tererosi...

Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi

Lihatlah!

Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..

Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi

Ketika tikus sibuk pesta korupsi

Kucing justru giat pamer gusi...

Terbuai di empuknya jok mercy

Lihatlah!

Gempita riuhnya demokrasi

Menumbuhkkan nurani yang semakin membesi

Saat rakyat butuh nasi...

Namun justru di kremasi

Ah, sudahlah!

Ini bukan demonstrasi..

Ini juga bukan mosi...

Ini hanyalah puisi...

Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!

Kampus UI

24 Agustus 2007

Andrianof A Chaniago

PARAFRASE

Di dalam ranah politik yang semakin menjadi, tak ada lagi hati yang memiliki keikhlasan dalam mengarungi jabatannya sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. Semakin hari semakin menciut pula hati para pemimpin untuk menjadi manusia yang jujur dan adil. Akal sehat telah terkalahkan oleh mahligai keindahan duniawi.

Dalam kesendiriannya, penulis puisi "Ludah Yang Kering" terbayang akan ketidak adilan seorang pejabat. Dengan keadaan ekonomi yang semakin melilit serta serba kekurangan rakyat justru menjadi korban ketidak adilan dan ketidak jujuran seorang pejabat yang semakin hilang nurani mereka bersama persaingan untuk medapatkan kedudukan atau jabatan.

Semejak dunia politik menjadi ajang bergengsi, para pejabat sibuk dengan kegiatan mengejar kursi (kedudukan). Berkampanye sana-sini dengan mengumbar janji manis. Mereka sudah tidak mengenal lagi arti demokrasi yang dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Serakah dan tak pernah puas itulah kata-kata yang pas bagi mereka yang hobinya mengobral janji. Para birokrat berlagak sok melarang dan memberantas ketidak jujuran, namun di belakang mereka malah berkomplot dan menjadi sahabat dalam berpesta uang panas yang sseharusnya diberikan kepada rakyat yang kelaparan dan telantarkan.

Politik sekarang hampa etika di balik dengan tuntutan rakyat. Bahkan ketika harga BBM naik, rakyat semakin tercekik akan kebutuhan hidup yang melunjak naik.

Tapi, bagaimnapun ini hanyalah sebidik puisi gambaran isi hati rakyat yang mulai jenih dan lelah oleh para petinggi mereka. Sekeras apapun kita berbicara namun tak ada gunanya. Meski melalui media massa dan demonstrasi yang tak kunjung habisnya pejabat malah mentereng dengan dasi kebanggaannya. Yah inilah negara kita, miskin hati dan kaya janji. Janji para pemimpin yang tak mempedulikan kita lagi.

PEMBAHASAN

NO

Kategori

Konsep

Indikator

1.

Struktur atau berhubungan dengan sintaksis dan morfologi

a. Kalimat majemuk koordinatif (KMS) adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk ini dihubungkan dengan konjungsi seperti, dan, atau, tetapi, dan namun. Kelimat majemuk setara dibagi menjadi tiga :

· KMS sejalan

· KMS berlawanan

· KMS penunjukan

b. Kalimat majemuk subordinatif (KMB) adalah kalimat ,majemuk yang hubungan antar klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satunamanya klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan, kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan subordinatif seperti, ketika, meskipun dan karena.

c. Kalimat adalah

· satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik/turun.

· Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intinasi akhir dan terdapat klausa.

· Lafal yang tersusun dari dua buah

Kata/lebih yang mengandung arti sengaja serta berbhasa Arab dianggap sebagai definisi yang sudah baku. (Djuha, 1998).

d. Kata depan adalah kata yang berfungsi membentuk frase preposisi

§ Kalimat ini termasuk di dalam contoh KMS penunjukan yang berupa KMS berlawanan. "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!"

§ "Ketika logika sudah berbau terasi"

§ "Ketika nurani kian tererosi.."

§ "Ketika tikus sibuk pesta korupsi"

§ Kalimat perintah

o "Lihatlah!"

o "Ah,sudahlah !"

o "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati !"

§ Kalimat tanya "Masih adakah hati yang berisi ?"

§ "Di" menandai hubungan tempat, kejadian atau peristiwa. "Dikilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi"

Proses fonologis akibat proses morfologis.

· Proses perubahan fonem

· Proses pergeseran fonem

· Kaidah-kaidah morfofonemik

1. Proses perubahan fonem /N/

· Pada morfem meN – dan peN berubah menjadi fonem /m/ kalau dasar kata berawal dengan /b/f/q/.

· Proses perubahan fonem /N/

1. Pada /meN-/ dan /peN-/ berubah menjadi fonem kata yang mengikutinya berawal denagan fonem /d.s.t/

· Proses perubahan perubahan fonem /N/

o Pada (meN-) dan (peN-) berubah menjadi fonem kata yang mengikutinnya berawal dengan fonem /d.s.t/

· "Namun justru dikremasi"

· Membesi menduduki fungsi sebagai predikat, mempunyai makna sifat. Berasal dari kata besi yang mendapat afiks Me- + m + besi. "menumbuhkan nurani yang semakin membesi"

· Menumbuhkan menduduki posisi senbagai predikat, mempunyai makna melakukan perbuatan. Barasal dari kata tumbuhan dan mendapat afiks me- dan akhiran kan- menjadi menumbuhkan Me- + n + tumbuh + kan "menumbuhkan nurani yang semakin membesi".

· Proses perubahan fonem /N/

· Pada meN- dan peN- berubah menjadi /J/ apabila dasar kata yang mengikutinya berfonem awal /g.h.k.x/ dan vokal.

2. Proses pergeseran fonem

yang dimaksud dengan pergeseran fonem ialah proses pergeseran fonem dari satu morfem kepada suatu morfem yang lain. Pergeseran fonem ini terjadi apabila suatu morfem ini terjadi suatu dengan morfem lain./ yang berlawanan dengan fonem vokal (akhiran –an dan akhiran -i)dalam suatu kata.

3. Kaidah morfofonemik

a. Kaidah morfofonemik (ber-)

b. Kaidah morfofonemik (ter-)

· Kaidah morfofonemik (ber-)

Kaidah III

Ber-→ ber-

Morfem ber- tetap merupakan ber apabila diikuti dasar kata yang tidak berfonem awal /r/, dan dasar kata yang suku pertamanya tidak berakhir dengan /ar/ dan bukan ajar kata dasarnya.

· Kaidah morfofonemik (ter-)

Kaidah II

Ter-→ter-

Motfem ter- tetap saja merupakan (ter-) apabila diikuti oleh dasar kata yang tidak berfonem awal /r/ dan dasar kata yang suku pertamanya tidak berakhir dengan (a.r).

o Mengejar menduduki fungsi sebagai predikat. Mempunyai makna melakukan perbuatan berasal dari kata kejar dan mendapat afiks me- + ng + kejar "penuh kegiatan sinetron mengejar kursi".

o Dendang-an menduduki sebagai predikat. Mempunyai makna melakukan perbuatan.

o Berasal dari kata dendang yang kemudian mendapatkan akhiran –an menjadi dendangan "Dendang-an birokrat dan wakil berdasi...."

o Berisi menduduki fungsi sebagai predikat. Mempunyai makna (dalam keadaan) isi. Berasal dari kata isi dan mendapat afiks ber-menjadi berisi. Ber-+ isi "masih adakah hati yang berisi?"

o Berbau menduduki fungsi sebagai predikat mempunyai makna sifat (dalam keadaan) bau. Berasal dari kata bau dan mendapat afiks ber-menjadi berbau ber + bau "ketika logika sudah berbau terasi"

o Berdasi menduduki fungsi sebagai predikat. Mempunyai makna kata kerja. Berasal dari kata dasi dan mendapat afiks ber- menjadi berdasi. Ber- + dasi "dendangan birokrat dan ewakil berdasi" ter-erosi menduduki sebagai predikat. Mempunyai makna menjadikan sesuatu. Berasal dari kata erosi dan mendapatkan afiks ter- menjadi tererosi. "ketika nurani kian ter-erosi".

o Terbuai menduduki sebagai predikat mempunyai makna sebagi atau menjadikan sesuatu. Berasal dari kata buai dan mendapatkan afiks ter- + buai "terbuai diempuknya jok mercy"

2.

Internal/ dihibungkan dengan gaya bahasa

a. Gaya bahasa pertentangan

· Antitesis adalah gaya bahasa pertentangan yang mempergunakan kata-kata yang berlawanan arti.

b. Gaya bahasa sindiran

  • Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran dengan mempergunakan kata-kata yang dianggap tidak sopan.

c. Gaya bahasa perbandingan

· Metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan sesuatu dengan benda yang mempunyai persamaan sifat

c.

· Butuh dan di kremasi

Dalam puisi ludah yang kering kata butuh bukan lawan kata dikremasi tetapi dilihat dari segi maknanya yang menjadikan kata tersebut bertentangan. Butuh artinya membutuhkan.

Sedangkan dikremasi artinya dibakar/ dihalang-halangi.

· Nurani yang semakin membesi

Nurani adalah perasaan yang murni yang sedalam-dalamnya.

Membesi adalah keras kepala/ membatu. Bila disimpulkan tidak mempunyai perasaan yang artinya para pejabat yang sudah tidak mempedulikan nasib rakyatnya.

· Berbau Terasi

Berbau terasi pada umumnya terkesan kurang sedap karena terasi adalah bumbu penyedap masakan yang dibuat dari ikan kecil-kecil / udang yang di lumatkan halus-halus dengan baunya yang khas. Berarti dapat disimpulkan bahwa sudah tidak ada lagi kesesuian dengan realita yang ada.

· Ter-erosi

Tererosi adalah peristiwa pengikisan bumi/tanah. Sedangkan hati nurani adalah perasaan murni yang sedlam-dalamnya. Secara metafora tererosi dapat disimpulkan nahwa perasaan pejabat sudah semakin hilang. Sehingga tidak ada lagi belas kasih terhadap rakyat yang tertindas.

· Tikus

Tikus "binatang pengerat yang merupakan hama perusak bagi para petani". Korupsi dan menyelewengkan uang rakyat yang dilakukan para pejabat. Secara metafora dapat disimpulkan bahwa banyak pejabat yang gemar melakukan pesta korupsi tanpa menghiraukan nasib rakyat.

· Kucing

Kucing "hewan pada umumnya yang ditakiti oleh tikus yang akan memangsanya". Secara metafora kucing diartikan sebagi para penegak hukum yang hanya bicara saja tanpa berbuat apa-apa ketika para pejabat melakukan kesalahan yang harus dihakimi. Mereka justru berkomplot intuk meenikmati hidangan panas dari rakyat.

"saat rakyat butuh nasi... namun justru dikremasi".

"gempita riuhnya demokrasi menumbuhkan nurani yang semakin membesi".

"ketika logika sudah berbau terasi"

" ketika nurani kian tererosi"

"ketika tikus sibuk pesta korupsi"

"kucing justru giat pamer gusi..."

3.

Analisis semantik perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indera

· Pertukaran indera perasa dengan indera penciuman

Seperti yang kita ketahui kata logika merupakan indera perasa. Sedangkan kata terasi yang menimbulkan bau kurang sedap merupakan indera penciuman. Dari analisis diatas telah terjadi pertukaran indera perasa menjadi indera penciuman.

· Pertukaran indera penglihatan dengan indera penciuman

Kata kilatan hujan pesona mengungkapkannya dengan cara menggunakan indera penglihatan. Sedangkan kata basi adalah bau dan untuk merasakannya menggunakan indera penciuman. Jadi telah terjadi pertukaran indera (sinestesi)

"ketika logika sudah berbau terasi"

"dikilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi"

4.

Analisis semantik terhadap semiotika dan makna kata

· Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Ia mampu menggantikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan.

a. Icon

b. Simbol

c. Indeks

· Simbol/lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, rencana dan sebagainya yang menyatakan sesuatu hal yang mengandung maksud tertentu.

· Dalam puisi ludah yang kering.

o Kata terasi ditandai oleh penulis sebagai akal pikiran para pejabat yang tidak sesuai dengan janjinya tetap sudah tercampur dengan kepentingan lainnya.

o Kata ter-erosi ditandai oleh penulis sebagai perasaan pejabat yang sudah mengikis dan menghilang sehingga nurani semakin tak terpakai.

o Kata tikus ditandai oleh penulis sebagai pejabat suka makan uang rakyat dan dipakai pesta politik/korupsi.

o Kata kucing ditandai oleh penulis sebagai penegak hukum yang hanya diam saja tingkah para pejabat.

· Makana Kata

o Makna konotasi adalah sebuah makna yang tidak sebenarnya pada kata atau kelompok kata. Oleh karena itu makna konotasi sering juga disebut dengan istilah makna kias.

o Dalam puisi ludah yang kering makna kata terdapat pada :

a. Sinetron

Kata sinetron mewakili arti sandiwara/memainkan watak atau lakon.

b. Pamer Gusi

Kata yang dapat pada "pamer gusi" memiliki arti memboyongkan diri/angkuh.

c. Membesi

Memiliki arti semakin kuat/keras. Karena besi sendiri memiliki arti dari sebuah benda yang kuat/ keras

"ketika logika sudah berbau terasi"

"ketika nurani kian tererosi"

"ketika tikus sibuk pesta korupsi"

"kucing justru giat pamer gusi...."

"penuh kegiatan sinetron megejar kursi"

"kucing justru giat pamer gusi"

"menumbuhkan nurani yang semakin membesi"

TOKOH

Andrinof A Chaniago

Andrinof A Chaniago, lahir Padang, 3 November 1962. Pekerjaan tetap saat ini adalah Pengajar pada Departemen Ilmu Politik FISIP UI, untuk mata kuliah-mata kuliah: Ekonomi-Politik pada Program S1 dan S2; Politik Perkotaan pada Program Sarjana Ekstensi, dan Isu-isu Politik dalam Kebijakan Publik pada Program S2 FISIP UI. Selain itu, penulis juga menjadi Peneliti Senior The Habibie Center dan Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS).

Ia juga aktif pada beberapa organisasi sosial (nonprofit), yakni sebagai anggota Dewan Redaksi Jurnal Galang, (jurnal pemikiran tentang penggalangan dana sosial atau filantrofi); Ketua Asosiasi Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) untuk Bidang Hukum dan Kebijakan Publik,dan Ketua III Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).

Andrinof A Chaniago menyelesaikan pendidikan S-1 (Drs) dari Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, dan S2 (M.Si) dari Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, serta Diploma The National Development Courses dari Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan, (2004).

Ia juga pernah mengkuti kuliah-kuliah singkat (Short Courses) dan Training, antara lain, tentang Economic Globalization, di Wuhan, China, 2007; Taiwan Economic Development and Planning, di Taipei, Taiwan, 2006; Sustainable Urban Development di Touyuan City, Taiwan, 2004; dan Conflict Mediation, di Oslo dan Troms O, Norwegia, 2003.

Panggilan : Andrinof

Kelamin : Laki-laki

TTL : Padang, 03 Nopember 1962

Agama : Daerah khusus ibu kota Jakarta

Indonesia

Riwayat Pendidikan
  • S-1 (Drs) dari Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia,
  • S2 (M.Si) dari Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia,
  • Diploma The National Development Courses dari Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan, (2004).
  • Kuliah-kuliah singkat (Short Courses) dan Training, antara lain, tentang Economic Globalization, di Wuhan, China, 2007;
  • Taiwan Economic Development and Planning, di Taipei, Taiwan, 2006;
  • Sustainable Urban Development di Touyuan City, Taiwan, 2004;
  • Conflict Mediation, di Oslo dan Troms O, Norwegia, 2003.
Riwayat Jabatan
  • Anggota Dewan Redaksi Jurnal Galang, (jurnal pemikiran tentang penggalangan dana sosial atau filantrofi);
  • Ketua Asosiasi Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) untuk Bidang Hukum dan Kebijakan Publik,
  • Ketua III Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).

SIMPULAN

Dari hasil analisis puisi :Ludah Yang Kering" terdapat jenis identifikasi Antara lain sebagai berikut :

1. Struktur dapat berhubungan dengan sintaksisi dan morfologi

Di dalam analisis ini konsep yang dianalisis diantaranya adalah :

a. Kalimat majemuk setara

b. Kalimat majemuk bertingkat

c. Kalimat

d. Kata depan

§ Proses fonologis akibat morfologis

1. Proses fonologis akibat morfologis

2. Proses perubahan fonem

3. Proses pergeseran

4. Kaidah-kaidah morfofonemik

2. Internal/dihubungkan dengan gaya bahasa

Di dalam analisis ini konsep yang dianalisis diantaranya adalah

a. Gaya bahasa pertentangan

b. Gaya bahasa sindiran

c. Gaya bahasa perbandingan

3. Analisis semantik perubahan makna akibat pertukaran indera

Di dalam analisis ini konsep yang dianalisis diantaranya adalah

a. Pertukaran indera perasa dengan indera penciuman

b. Peretukaran indera penglihatan dengan indera penciuman

c. Analisis semantik terhadap semiotika dan makna kata

DAFTAR PUSTAKA

Putrayas, Ida Bagus. 2006. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung : Refrika Adhitama.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : rineka cipta.

Tarigan, henry Guntur. 1995. Pengajar Morfologi. Bandung : Angkasa.

http ://bahasakebangsaan.blogspot.com.

http ://makna-konotasi-dan-makna denotasi.html.