Rabu, 21 Juli 2010
laporan bacaan
s
ebelum membahas lebih lanjut tentang theater yuk kita intip dulu sebenarnya apa sich teater itu dan bagaimana asal mula teater tersebut?. Yups, in this book dijelaskan bahwa theater telah dipercayai keberadaannya sejak manusia melakukan interaksi antara satu individu dengan yang lain. Interaksi tersebut bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. If so… pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh dengan interaksi manusia dengan alam semesta.
The theater berasal dari kata yunani kuno yaitu theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan. Theater lebih cenderung kepada aktivitas melakukan suatu pementasan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Guys..!! selama ini kita mengenal istilah teater sama dengan drama. teater dan drama merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Karena antra mereka mempunyai ikatan yang sangat kuat. Namun dapat kita bedakan bahwasnya teater lebih cenderung pada aktivitas pertunjukan sedangkan drama adalah lebih identik dengan naskah, lakon dan karya sastra.
Jika kita tinjau dari tingkat kerumitannya, teater memanglah sebuah karya seni yang sangat rumit, karena melibatkan beberapa keahlian dan keterampilan. Seni teater menggabungkan dua unsure, yakni : unsure audio visual dan kinestetik.
Pertunjukan ini merupakan proses seseorang atau sekelompok manusia dalam rangka mencapai tujuan artistik secara bersama. Dalam proses produksi artistik ini, ada sekelompok orang yang mengkoordinasikan kegiatan (tim produksi). Kelompok ini yang menggerakkan dan menyediakan fasilitas, teknik penggarapan, latihan-latihan, dan alat-alat guna pencapaian ekspresi bersama. Hasil dari proses ini dapat dinikmati oleh penyelenggara dan penonton. Antara mereka harus bekerjasama guna menuai hasil yang maksimal. Harus ada rasa saling memahami dan mengisi antar pribadi. So guys, with these we can learn about many things coz this is the real lerning about life!! We can see our life with a theater. Lets having fun with theater.
Check it out..!!
*
1. PENGETAHUAN TEATER
A. Definisi teater
Teater berasal dari bahasa yunani yaitu theatron dan dalam bahasa inggrisnya seeing place yang berarti tempat pertunjukan. atau dalam bahasa sederhannya adalah pertunjukkan yang dilakukan oleh lakon atau pemain dan disaksikan oleh penonton dalam suatu tempat. Maka dari itu pertunjukkan membutuhkan pemain, penonton dan pentas untuk melakukan suatu pertunjukkan.
Selama ini kita memahami bahwa teater adalah drama. dalam pembahsan kali ini mari kita cerna kembali, apakah memang sama antara teater dan drama. darama berasal dari kata draomai yang berasal dari bahasa yunani kuno yang berarti bertindak atau berbuat. Nah dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa teater adalah berkaitan langsung dengan pertunjukkan sedangkan darama berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jika drama adalah berhubungan dengan lakon dan naskah, dan teater adalah pertunjukkan maka darama adalah bagian dari teater.
Pada era saat ini istilah teater lebih popular daripada drama. memang karena kedua hal tersebut sangat susah dipisahkan karena tidak mungkin suatu pertunjukkan dilakukan jika tidak ada lakon dan ceritannya. Berkaitan dengan teater dan drama maka drama turgi membahas secara lanjut tentang cara memulai menulis naskah hingga pementasannya. Ada empat formuls untuk mempelajari hal tersebut yaitu : 4M, Menghayal, Menuliskan, Memainkan, dan menyaksikan.
A. Sejarah Singkat Teater
Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut.
• Berasal dari upacara agama primitif.
• Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya.
• Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita.
Dalam asal mula teater ada beberapa teater yang terdapat pada teater barat diantaranya yaitu:
Teater Yunani Klasik
Teater Romawi Klasik
Teater Abad Pertengahan
Renaissance
Teater Zaman Elizabeth
Teater abad 17 di Spanyol dan Perancis
Teater Restorasi di Inggris
Teater Abad 18
Teater Awal Abad ke 19
Teater Abad 19 dan Realisme
Teater Abad 20
Adapun teater-teater yang terdapat di Indonesia yaitu :
Teater tradisional, yang merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Adapun teater tradisional meliputi :
Wayang merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri bagaimana asal muasalnya. Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada Zaman Raja Jawa.
Wayang Wong (wayang orang)
Makyong (Pulau Mantang, Riau)
Randai (Minangkabau, SUMBAR)
Mamanda (Kalimantan Selatan)
Lenong (Betawi)
Longser (Sunda, JABAR)
Ubrug (Banten)
Ketoprak (Jawa Tengah & Jawa Timur)
Ludruk (Jombang Jawa Timur)
Gambuh (Bali)
Arja (Bali)
Teater Modern
Teater Transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain.
Teater Indonesia tahun 1920-an
Teater Indonesia tahun 1940-an
Teater Indonesia Tahun 1970-an
Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
Teater Kontemporer Indonesia
Dalam teater ada beberapa unsur utama yaitu naskah lakon, sutradara, pemain, penonton dan tata artistik. Tanpa keempat unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk mendukung unsur pokok tersebut diperlukan unsur tata artistik yang memberikan keindahan dan mempertegas makna lakon yang dipentaskan.
B. Jenis-jenis Teater
Teater Boneka
Teater Musikal
Teater Dramatik
Teater Gerak
Teattrikalisasi puisi
C. Gaya Pementasan
Gaya dapat diartikan sebagai warna-warni ekspresi dan cara yang digunakan untuk menunjukkan suatu pertunjukan. ada tiga gaya yang mendasari gaya penampilan teater : presentasional, representasional (realisme), dan post-realistic.
**
B. LAKON
Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan, yaitu :
pertama, lakon atau cerita yang ditampilkan,
bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis, skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan).
Kedua, pemain adalah orang yang membawakan lakon tersebut.
Ketiga, sutradara sebagai penata pertunjukan di panggung.
Keempat, penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya.
Dalam teater ada dua nsur yaitu intrinsic dan ekstrinsik . adapun unsure intrinsic meliputi :
Tema
Plot (alur cerita), secara sederhana, plot mempunyai dua macam jenis yaitu :
• Simple plot atau plot lakon adalah lakon hanya mempunyai satu alur cerita dan konflik yang bergerak dari awal hingga akhir
• Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa subplot yang saling berkesinambungan.
Setting, dapat juga diartikan sebagai latar.
• Latar tempat
• Latar waktu
• Latar peritiwa
Struktur dramatic
Tipe lakon
Dan penokohan
***
C. PENYUTRADARAAN
Pada awal mulanya, dalam teater tidak mengenal istilah penyutradaraan karena jika para pemain ingin melakukan suatu pementasan, mereka hanya berlatih secara bersama-sama. Karena adanya proses peremajaan pemain maka pemain yang lama dan yang lebih berpengalaman maka mereka melatih bagi mereka yang baru belajar. Oleh karena itu seorang sutradara harus lebih banyak tahu daripada yang lain. Karena bentuk berhasil atau tidaknya suatu pertunjukan tergantung pada sutradara yang membentuk peretunjukan tersebut.
Seorang sutradara harus menguasai banyak hal karena banyak sekali yang harus ia lakukan, diantaranya:
Menetukan lakon dengan cara dari naskah sendiri atau naskah orang lain yang telah tersedia.
Menganalisis lakon : analisis dasar, interpretasi, dan konsep pementasan
Menetukan pemain, untuk menentukan pemain biasanya berdasarkan atas ; penampilan fisik dan kecakapan pemain.
Menetukan bentuk dan gaya pementasan.
Memahami dan mengatur blocking (aturan perpindahan tempat dari satu titik ketitik yang lain).
Dan yang terakhir yakni melakukan serangkaian latihan dengan pemain dan tim artistic.
****
D. PEMERANAN
a. Olah Tubuh
Dalam bacaan ini dapat diketahui bahwa pemeran atau aktor adalah salah satu elemen pokok dalam pertunjukan teater. Sebelum memainkan karakter, pemeran harus menguasai tubunhya. Oleh karena itu, seorang pemeran harus ikhlas belajar demi pencapaian kualitas tubuh agar enak ditonton. Proses belajar penguasaan tubuh memerlukan waktu yang panjang dan secara kontinu serta tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Seorang pemeran adalah seorang seniman yang memainkan peran yang digariskan oleh penulis naskah dan sutradara. Untuk mewujudkan laku peran di atas pentas, pemeran harus mengetahui, memahami, dan memfungsikan dengan baik alat dan sarana yang akan dipergunakan. Alat dan sarana tersebut adalah tubuh dan jiwanya sendiri.
Dalam pemeranan, posisi tulang belakang dapat menyampaikan pesan atau gambaran pada penonton berbagai kondisi yang dialami. Gambaran ketika sedang tegang atau tenang, letih atau segar, tua ataumuda sangat dipengaruhi oleh posisi tulang belakang. Tulang belakang juga membantu keberlangsungan perubahan sikap tubuh dan bunyi suara.
Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap, yaitu latihan pemanasan, latihan inti, dan latihan pendinginan. Latihan pemanasan (warm-up), yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Latihan inti, yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down), yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.
b. Persiapan
Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Cara untuk menghitung denyut nadi, yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Cara penghitungan denyut nada yang ada dipergelangan tangan, yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.
c. Pemanasan
Sebelum melakukan latihan kita dapat melakukan beberapa tahap untuk pemanasan, diantranya yaitu :
• Pemanasan jari pergelangan tangan
• Pemanasan siku
• Pemanasan bahu
• Pemanasan leher
• Pemanasan batang tubuh
• Pemanasan tungkai kaki dan punggung
• Pemanasan pergelangan kaki, tungkai dan punggung
d. Latihan Inti
Latihan Olah tubuh inti yaitu serial pokok dari gerakan yang akan dilatih sesuai dengan tujuan membentuk ketahanan tubuh, kelenturan tubuh, dan ketangkasan fisik. Dalam latihan inti ada beberapa macam yang dapat dilakukan untuk dilatih.
• Ketahanan
Pedoman dalam melakukan latihan olah tubuh ketahanan adalah sebagai berikut.
a. Coba untuk konsentrasi dan konsekuen dalam latihan ini.
b. Ajaklah teman sebagai patner ataupun sebagai pengawas dalam latihan.
c. Untuk latihan gerak tertentu, pergunakan matras sebagai pelindung maupun sebagai alas latihan.
d. Lakukan dengan rileks dan jangan terburu-buru. Prinsip dari dasar dari latihan ini adalah pengulangan-pengulangan secararutin.
• Kelenturan
Kelenturan adalah kelemah-lembutan atau kekenyalan dari otot dan kemampuannya untuk meregang cukup jauh agar memungkinkan persendian dapat beraksi dengan lengkap dalam jarak normal dan dari gerakan ini tidak menyebabkan cedera.
• Ketangkasan
Ketangkasan merupakan suatu bentuk latihan olah tubuh yang difokuskan pada keterampilan, kecepatan, dan kegesitan.
e. Pendinginan
Pendinginan atau peredaan (warm-down) yaitu serial pendek gerakan latihan yang bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi tubuh. Pengenduran otot-otot dilakukan untuk memperbaiki kelenturan tubuh yang menegang akibat latihan inti. Sasaran dari latihan ini adalah sebagai berikut.
a. Mengakhiri setiap latihan dalam suasana yangmenyenangkan.
b. Menetapkan suatu serial gerakan dengan maksud untuk mempertahankan penambahan sirkulasi yang ringan,meregangkan otot-otot dan melancarkan peredaran darah, serta menstabilkan pernafasan.
c. Memperbaiki kesadaran diri dari kebutuhan-kebutuhan otototot.
f. Relaksasi
Relaksasi adalah memposisikan tubuh dalam kondisi yang rileks, tanpa tegangan. Akan tetapi, meskipun tubuh rileks bukan berarti berada dalam keadaan pasif (tanpa bergerak).
Pedoman melakukan relaksasi adalah sebagai berikut.
a. Konsentrasi pada nafas,
b. Santai dan kendorkan semua pikiran
c. Gunakan nafas segitiga, yaitu menghirup, menahan, dan menghembuskan nafas dengan hitungan yang sama.
d. Pilihlah pose-pose yang sesuai dengan kemampuan, jangan memaksakan suatu pose tetapi tidak merasa nyaman.
Olah suara
Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran.
Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri, dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. Akan tetapi, bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai peranan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya, maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Hal ini merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan, yaitu sebagai berikut.
a. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton.
b. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara.
c. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan peran, misalnya: umur. kedudukan sosial, kekuatan, kegembiraan, putus asa, marah, dan sebagainya.
d. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik.
e. Melengkapi variasi.
• Persiapan
Sebelum melakukan latihan olah suara sebaiknya mempelajari organ produksi suara. Organ produksi suara pada manusia terbagi menjadi tiga, yaitu organ pernafasan, resonator, dan organ pembentuk kata. Organ pernafasan terdiri dari hidung, tekak atau faring, pangkal tenggorokan atau laring, batang tenggorokan atau trakea, cabang tenggorokan atau bronkus, paru-paru, serta pita suara. Resonator terdiridari: rongga hidung, rongga mulat, dan rongga dada.
• Pemansan
Setelah mengetahui macam-macam, letak, dan fungsi dari organ produksi suara, maka latihan pemanasan siap dilakukan. Fungsi pemanasan ini adalah mengendorkan otot-otot organ produksi suara. Latihan pemanasan olah suara diawali dengan senam wajah, senam lidah, dan senam rahang. Pedoman latihan olah suara adalah sebagai berikut.
a. Konsentrasi dan sadar pada pekerjaan.
b. Santai dan lakukan pengulangan-pengulangan.
c. Hindari keteganggan dan lakukan segala sesuatu dengan wajar secara alami.
d. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, jangan lakukanlatihan secara terburu-buru. e. Lakukan semua latihan ini dimulai dari tempo lambat sampai dengan tempo cepat.
• Senam wajah
• Senam lidah
• Senam rahang bawah
• Latihan tenggorokan bawah
• Berbisik
• Bergumam
Fungsi bergumam adalah sebagai pemanasan organ produksi suara.
• Bersenandung
Fungsi latihan bersenandung adalah untuk pemanasan organ produksi suara sekaligus untuk melatih penguasaan melodi.
Latihan-latihan
o pernafasan
Dalam latihan terdapat yang namanya latihan pernafasan, ada beberapa bagian pernafasan yang harus dilatih kembali :
• Latihan pernafasan dasar
• Latihan pernafasan perut
• Latihan pernafasan dada
• Diafragma
o Diksi
-latiahn huruf -latihan kata -latihan kalimat
o Artikulasi
Dalam latihan artikulasi tahap-tahapnya samadengan latihan diksi
o Intonasi yang meliputi
-jeda -tempo -timbre -nada
o Wicara
Wicara adalah cara berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon. Penggunaan diksi, artikulasi dan intonasi, diaplikasikan dalam wicara. Oleh karena suara adalah kendaraan imajinasi pemeran, maka wicara harus dilakukan dengan memperhatikan teknik olah suara.
o Relaksasi
Pedoman melakukan relaksasi ini adalah sebagai berikut
a. Konsentrasi pada nafas, bila perlu rasakan perjalanan udara yang dihirup mulai dari hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
b. Santai dan kendorkan semua pikiran, otot-otot, dan jangan ada yang mengganggu atau keteganggan otot-otot produksi suara.
c. Gunakan nafas segitiga yaitu menghirup, menahan, dan menghembuskan nafas dengan hitungan yang sama.
Olah rasa
konsentrasi
gesture
imajinasi
Tekhnik dasar pemeranan
Tekhnik muncul
Tekhnik member isi
Tekhnik pengembangan
Latihan membina puncak
Tekhnik penonjolan
Tekhnik pengulangan
Tekhnik improvisasi
Penghayatan karakter
Analisis karakter
-sosiologis -historis -psikologis -fisiologis -moral
Observasi
Interpretasi
Ingatan emosi
Irama
Pendekatan karakter peran
Melaksanakan pemeranan
Pantomime
Monolog
Mendongeng
Memainkan fragmen
Memainkan drama pendek
Memainkan drama panjang
*****
E. TATA ARTISTIK
A. Tata rias
Seperti yang kita ketahui, kalau membahas tentang rias pasti tidak jauh dengan make up dll, yang tidak lain tujuannya adalah ingin mengubah wajah menjadi lebih menarik seperti yang diinginkan oleh perias atau yang dirias. Dalam theater tata rias lebih dispesifikkan pada seni merubah wajah yang sesuai dengan karakter tokoh.
Tata rias pada jaman kuno topeng/kedok dijadikan sebagai alat untk penegasan karakter. Sedangkan rakyat primitive menggunakan bedak tebal yang terbuat dari bahan alami. Dengan demikian maka tat arias sangatlah berperan penting pada kesenian theater.
a. Fungsi tata rias
Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.
Menyempurnakan penampilan wajah
Menggambarkan karakter tokoh
Memberi efek gerak pada ekspresi pemain
Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh
Menambah aspek dramatik.
b. Jenis tata rias
Tata rias korektif : suatu betuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).
Tata rias fantasia tau sering disebut dengan tat arias karakter khusus karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistis.
Tata rias karakter : tat arias yang merubah wajah seseorang yang sesui unsure perwatakan, umur, sifat dan karakter khusus tokoh.
c. Bahan dan alat tat arias
Bahan Tata Rias Alat Tata Rias
Cleanser Sikat alis & bulu mata
Astringent Kuas alis & eyeliner
Concealer Kuas bibir & concealer
Foundation Kuas eyeshadow & kipas
Losse powder Kuas shading & blush on
Compact powder Kuas powder & V.D spuff
Blush on Spon wajik & bundar
Kosemetik bibir Aplikator berujung spon
Kosmetik mata Pinset & gunting
Body painting Pencukur alis & jepit bulu mata
d. Praktek tata rias
Persiapan
Perencanaan
Persiapan tempat
Persiapan bahan dan peralatan
Persiapan pemain : melindungi tubuh dan kepala pemain, membersihkan wajah, dan menegnal wajah pemain.
e. Design
Desain adalah rancanagan berupa gambar atau sketsa sebagaib dasar penciptaan.
f. Tata rias dan keterangannya seperi halnya yang telah dipaparkan diatas.
B. Tata busana
Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh.
a) Fungsi tata busana
Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh, mencitrakan kesopanan, dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks, yaitu.
Mencitrakan keindahan penampilan
Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain
Menggambarkan karakter tokoh
Memberikan efek gerak pemain
Memberikan efek dramatic
b) Jenis tata busana
Busana sangat beragam jenis dan bentuknya. Busana teater secara garis besar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu; busana sehari-hari, busana tradisional, busana sejarah, dan busana fantasi.
c) Bahan dan peralatan tata busana
Bahan tata busana Peralatan tata busana
Bahan alami Gunting & penggaris
Tekstil Rader & pencabut benang
Busa Mesin Jahit & jarum
Spon Setrika
kulit Boneka jahit
d) Praktek tata busana
Menganalisis naskah
Diskusi dengan sutradaradan pemain
Mengenal tubuh pemain
Persiapan pementasan
Desain
Mengerjakan busana
C. TATA CAHAYA
Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam pelanataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.
Fungsi tata cahaya
Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir (Mark Carpenter, 1988).
Penerangan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang
Dimensi. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan.
Pemilihan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari.
Atmosfir. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton.
Gerak. Tata cahaya tidaklah statis. Sepanjang pementasan, cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain, dari objek satu ke objek lain.
Gaya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan.
Komposisi. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.
Penekanan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan.
Pemberian tanda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung.
Peralatan tata cahaya
• Bohlam
• Reflector dan refleksi
• Lensa
• Lampu
• Scoop
• Perlengkapan pemasangan
• Assesoris
• Dimmer dan control
Warna cahaya
Warna cahaya sangat berpengaruh pada suasana panggung. Dalam pertunjukan teater realis yang meniru warna cahaya matahari maka harus benar-benar dibedakan antara warna matahari di saat fajar, pagi, siang, dan sore hari. Kesalahan pemilihan warna dapat berakibat fatal berkaitan dengan latar waktu kejadian peristiwa.
• Pencampuran warna
Ada dua tekhnik pencampuran warna yaitu dengan :
o Additive mixing
o Subtractive mixing
Penyinaran
Prinsip dasar penyinaran adalah membuat objek yang disinari jelas terlihat dan cahaya tidak bocor sampai ke penonton atau bagian panggung lainnya yang tidak memerlukan sinar.
Praktek cahaya
Yang meliputi beberapa hal yakni :
Mempelajari naskah
Diskusi dengan sutradara
Mempelajari desain tata busana
Mempelajari tata panggung
Memepelajari tata panggung dan perlengkapan
Mengikuti latihan
Membuat konsep
Plot tata cahaya
Gambar desain tata cahaya
Penataan dan percobaan
Pementasan
D. TATA PANGGUNG
Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung.
Jenis-jenis panging
Sebagaiman yang kita tahu bahwa banyak sekali model panggung, namun dewasa ini yang sering kali digunakan adalah panggung proscenium, thrust, dan panggung arena.
Bagian-bagian panggung
☻border ☻backdrop
☻batten ☻penutup
☻rumah panggung ☻catwalk
☻tirai besi ☻latarpanggung atas ☻sayap ☻layar panggung ☻krap jungkit ☻tangga
☻apron ☻bawah panggung ☻orchestra pit ☻FOH
☻langit akustik ☻ruang pengendali ☻bar ☻foyer
☻auditorium ☻ruang ganti pemain
Fungsi tata panggung
Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Sebelum menjelaskan semua itu, fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Selain merencanakan gambar dekor, penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung, terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsure pokok pada tata panggung arena. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon, periode sejarah lakon, lokasi kejadian, status karakter peran, dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.
E. TATA SUARA
Tata adalah suatu usaha pengaturan terhadap sesuatu bentuk, benda dan sebagainya untuk tujuan tertentu. Suara adalah getaran yang dihasilkan oleh sumber bunyi biasanya dari benda padat yang merambat melalui media atau perantara. Perantara dapat berupa benda padat, cair, dan udara kepada alat pendengaran.
Tekhnik penataan suara
Penata suara dalam menjalankan tugasnya harus mempertimbangkan kualitas suara yang dihasilkan sebagai nilai seni. Kualitas suara yang dihasilkan ahrus baik, jelas, wajar terdengar, indah dan menarik. Bukan hanya mengutamakan keras dan lemahnya suara.
• Tekhnik miking • tekhnik balancing
• Tekhnik mixing •tekhnik recording
Fungsi tata suara
Tata suara memiliki beberapa fungsi, yaitu.
Menyampaikan pesan tentang keadaan yang sebenarnya kepada pendengar atau penonton.
Menekankan sebuah adegan atau peristiwa tertentu dalam lakon, baik melalui efek suara atau alunan musik yang di buat untuk menggambarkan suasana atau atmosfir suatu tempat kejadian.
Menentukan tempat dan suasana terentu, keadaan tenang, tegang, gembira maupun sedih, misalnya seperti suara ombak, camar dan angin memperkuat latar cerita di tepi pantai.
Menentukan atau memberikan informasi waktu. Bunyi lonceng jam dinding, ayam berkokok, suara burung hantu, dan lain sebagainya.
Untuk menjelaskan datang dan perginya seorang pemain. Ketukan pintu, suara motor menjauh, dan suara langkah kaki, gebrakan meja, dan lain sebagainya.
Sebagai tanda pengenal suatu acara atau musik identitas cara (soundtrack). Musik yang berirama jenaka bisa memberikan gambaran bahwa pertunjukan yang akan disaksikan bernuansa komedi, sementara musik yang berat dan tegang dapat memberikan gambaran pertunjukan dramatik.
Menciptakan efek khayalan atau imajinasi dengan menghadirkan suara-suara aneh di luar kelaziman.
Sebagai peralihan antara dua adegan, sebagai fungsi perangkai atau pemisah adegan, biasanya musik pendek yang dibuat khusus untuk suatu drama atau ceritera.
Sebagai tanda mulai dan menutup suatu adegan atau pertunjukan. Tone buka dan tone penutup, ada juga yang diambil dari potongan soundtrack.
Jenis tata suara
• Live
• Rekaman
• Rekam basah
• Rekam kering
Peralatan tata suara
• Mikrofon
• recorder
• Audio equalizer
• Expander
• Power amplifier
• Audio speaker monitor
Praktek tata suara
• Persiapan
• Penataan
• Pengecekan
• Perawatan peralatan audio
Wal hasil, Alhamdulillah sekian lama membaca, berbagai posisi telah ku buat hanya untuk menikmati sebuah karya seni, Dengan mata merem-melek akhirnya tugas laporan bacaan telah terselesaikan, meski jauh dari kesempurnaan dan harapan My Greatest lecture Mr Imam. Saya ucapkan terima kasih yang setulusnya karena dengan tugas ini kami dapat menjelajahi dan memahami tentang theater. THANKS ALOT SIR!!
KARYA TERE LIYE
PENGERTIAN TEMA
Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Atau gampangnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
Dalam novel, tema dapat dilihat melalui persoalan-persoalan yang dikemukakan, cara-cara watak itu bertentangan antara satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan, semuanya menentukan rupa tema yang dikemukakan oleh pengarang. Justru, pokok persoalan atau tema merupakan pengertian yang terkandung dibalik sebuah karya.
Persoalan tersebut ialah perkara-perkara kecil dalam sesuatu karya yang ada hubungannya dengan tema. Persoalan yang berbagai diwujudkan dalam sesuatu karya bertujuan untuk menghidupkan serta memperkukuh tema yang coba diketengahkan oleh pengarang.
Tema dalam cerita pendek biasanya hanya berisi satu tema. Hal itu berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas.
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, yaitu
Ada tema didaktis, yaitu tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatan
Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit
Ada tema yang dinyatakan secara simbolik
Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya
Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
minat pribadi
selera pembaca
keinginan penerbit atau penguasa
Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan gagasan yang dipahami oleh pembaca melalui karya sastra. Gagasan sentral yang terdapat atau ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang (pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna aniatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatan
pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalam karyanya.
Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karta.
Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut.
Dalam suatu karya sastra ada tema sentral dan ada pula tema samapingan. Yang dimaksud tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Yang dimaksud tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.
Ada tema yang terus berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar, serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut leitmotif. Leitmotif ini mengantar pembaca pada suatu amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
Analisis Tema pada Novel Hafalan Shalat Delisa
Tema dari novel Hafalan Shalat Delisa adalah tentang kecintaan seorang anak berumur enam tahun keluarganya dan mencoba mengenali Tuhannya dengan hafalan-hafalan bacaan shalat yang telah di ajarkan oleh gurunya. Cerita merupakan kisah nyata pada salah satu keluarga yang bertempat tinggal di Banda Aceh tepatnya didaerah Lhok Nga.
Ringkas cerita Delisa adalah anak dari Ummi Salamah dan Teuku Usman, Delisa merupakan putri yang paling cerdas diantara ke tiga saudaranya. Cut Fatimah, Cut Zahra dan Cut A’isyah. Delisa selalu aktif dibangku sekolah dan banyak bertanya kepada setiap orang jikalau dia tidak mengerti tentang suatu hal.
Sebagai bukti dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
”Ustadz,kenapa ya aku sering ke bolak-balik?” delisa menyeletuk, mengangkat kepalanya dari buku iqra’ di atas rihal. Ingat sesuatu. Ustad Rahman menatapnya? Keblak-balik? Oo, bacaan Shalat? ”.
”kenapa gak boleh kebolak-balik?”. (hal:35)
”Abi, kenapa jika aku main sepak bola selau dijadikan kipper? Kata teman-teman karena kakiku cacat jadi aku harus jadi kipper saja. Aku tidak suka jadi kipper, kerjanya Cuma berdiri bengong nunggu bola menyerbu. Kan gak asyik bi..”.
”Abi, kapan Delisa bisa sekolah lagi?”
”Abi, kenapa Umam sekaramg sering berdiam diri?”
”Memangnya sedih kenapa, Bi?” (hal 151)
Delisa merupakan sosok yang gigih dan pantang menyerah. Ia akan melakukan apa saja untuk mencapai obsesinya.
”sore itu delisa dengan semanagtnya menghafal bacaan shalat kemanapu dia berada. Di ayunan itu terbata-bata delisa mencoba menghafal bacaan shalat dan berkali-kali mencoba menginetnya dan terus berusaha agar kali ini bacaannya yang terbolak-balik segera berakhir. Semua itu ia lakukan demi kalung yang telah dibelinya dan akan diberikan padanya oleh ummy sebagai hadiah jika ia lulus dalam hafalan shalat”.
Analisis PLOT
Plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh penulis yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita. Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan alur/plot adalah suatu cerita yang saling berkaitan secara kronologis untuk menunjukkan suatu maksud jalan cerita yang ada.
Pengertian Plot menurut beberapa ahli :
Menurut Virgil Scoh, 1966 : 2. Plot adalah prinsip yang isensial dalam cerita.
Menurut Morjorie Boulton, 1975 : 45. Plot adalah pengorganisasian dalam novel atau penentu struktur novel.
Menurut Dick Hartoko, 1948:149
Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu:
Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal.
Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.
Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action).
Adzan subuh dari meunasah terdengar syahdu. Bersahutan satu sama lain. Menggetarkan langit-langit Lhok Nga yang masih gelap. Jangan salah, gelap-gelap seperti ini kehidupan sudah dimulai. Remaja tanggung sambil menguap menahan kantu mengambil wudhu. Anak laki-laki bergegas menjamah sarung dan kopyah. Anak gadis menjumput lipatan mukena putih dari atas meja. Bapak-bapak membuka pintu rumah menuju meunasah. Ibu-ibu membimbing anak kecilnya bangun shalat berjama’ah. “Ummi Delisa nggak mau bangun!” suara Aisyah berteriak kencang-kencang”. (HSD:01)
waktu berjalan cepat, senin-selasa-rabu langsung wuss hari sabtu. Bagi Delisa waktu juga bergerak cepat. Dengan adanya jembatan keledai itu Delisa mengahafal bacaan shalatnya lebih cepat, lebih lancer.memang masih bolong disana-sini. Tetapi ibarat bangun rumah sudah kelar 95%. (HSD: 47)
Ummi salamah terpana. Ya Allah, kalimat itu begitu indah. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika. Delisa cinta Ummi karena Allah.. Tasbih ummi terlepas. Matanya berkaca-kaca. Ya Allah apa yang barusan dikatakan bungsunya? Ya Allah darimana ia dapat ide untuk mengatakan kalimat seindah itu? Tangan ummi bergetar menjulur merengkuh tubuh Delisa. (HSD:49)
Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks.
“Allahu Akbar!”
Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbirotul Ikhrom; persis ucapan itu hilang dari mulut delisa. Persis di tengah lautan luas yang berteriak tenang. Persis disana! LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika. Merekah panjang ratusan kilometer. (HSD: 61)
Tubuh lemah delisa terus terseret jauh gelombang tsunami. Terikat di atas papan. Bersama ribuan orang lainnya. Haru pagi Ahad, 26 Desember 2004. Penduduk dunia mencatatnya. (HSD: 69)
Delisa tak bisa bergerak, kaki kanannya hingga ke betis sempurna terjepitdi sela-sela dahan semak. Tubuh mungilnya terjembab di atas semak belukar tersebut. Badannya terbaring dengan bagian sebelah kiri menyentuh tanah. Kaki kanannyamenggantung tak berdaya. (HSD:84)
Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).
Bacaan shalat itu sepertinya berbicara kepada delisa. Esok sorenya, dokter Peter mengijinkan Delisa untuk pulang. Di antar oleh kak Ubai menumpang jeep tua. Abi tersenyum riang sepanjang perjalanan. Meski tidak banyak bercerita dan tertawa. Delisa sedikit bingun melihat perangai Abi. Pasti ada yang disembunyikan ternyata abi menyiapkan kejutan di rumah. Ada pesta penyambutan kecil untuknya.
Alur atau Plot adalah rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Banyak anggapan keliru mengenai plot. Sementara orang menganggap plot adalah jalan cerita. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu. Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.
Atau, secara lebih gamblang plot adalah –menurut Aswendo Atmowiloto- sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.
Semua peristiwa yang terjadi di dalam novel harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa.
Analisis Tokoh dan Perwatakannya
Macam-macam tokoh
Telah di uraikan sebelumnya bahwa tokkoh-tokoh dalam cerita fiksi dapat di bagi menjadi beberapa macam. Pembagian tokoh tersebut didasarkan pada beberapa hal. Pertama, berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita. Kedua, berdasarkan watak tokoh dalam cerita. Ketiga, berdasarkan perkembangan watak tokoh dalam cerita.
Pembagian tokoh berdasarkan fungsinya dalam cerita
Tokoh utama atau tokoh inti dalam Novel Hafalan Shalat Delisa Untuk menetukan tokoh utama atau tokoh inti Novel Hafalan Shalat Delisa. Dapat di lakukan dengan menggunakan beberapa cara. Di antaranya adalah dengan melihat frekuensi pemunculan dan intensitas keterlibatan tokoh utama dalam cerita. Selain itu dapat juga mengamati tokoh yang sering di beri komentar dan di bicarakan oleh pengarang.
Berikut ini peneliti kemukakan beberapa data untuk membuktikan adanyan tokoh utama dalam novel tersebut.
Data (1) Delisa (tokoh utama)
Delisa memang beda. Jadi terlihat amat lucu saat memandang ia berada ditengah-tengah mereka. Berlari-lari nebgejar bola. Meskipun demikian, Delisa tetap tidak beda dengan kebanyakan gadis kecil perempuan lainnya untuk urusan tampang. Amat menggemaskan, sungguh imut wajahnya. Apalagi kalau ia sedang nyengir. (HSD: 11)
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Lepas satu minggu, Delisa sudah nyaris hafal seluruhnya. Shalatnya jauh lebih nyaman. Delisa bisa berdo’a lebih baik. Mendo’akan kak fatimah, mendo’akan kak Zahra, kak Aisya dan Ummi, dimanapun sekarang Ummi berada. (HSD: 240)
Data (2)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Data (3)
Ummi salamah terpana. Ya Allah, kalimat itu begitu indah. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika. Delisa cinta Ummi karena Allah.. Tasbih ummi terlepas. Matanya berkaca-kaca. Ya Allah apa yang barusan dikatakan bungsunya? Ya Allah darimana ia dapat ide untuk mengatakan kalimat seindah itu? Tangan ummi bergetar menjulur merengkuh tubuh Delisa. (HSD:49)
Data (4)
Bukankah sudah dikatakan sebelumnya. Delisa memang ngetop di Lhok Nga. Kebiasaanya berkeliling dari satu tenda ketenda yang lainmembuatnya dikenal. Apalagi melihat tampangnya yang amat berbeda. Semua orang seperti berkepentingan untuk menjenguknya, “kabar sakinya menjadi headline di kota Lhok Nga, usman”. Ini berndaan wak Burhan. Delisa nyengir tidak mengerti apa maksudnya. (HDS: 223)
Kutipan data tersebut, bila di amati dan dianalisis lebih lanjut akan mendapatkan jawaban tentang tokoh utama dalam novel Hafalan Shalat Delisa. Data (1) merupakan tahap awal pengisahan. Pengarang menampilkan tokoh Delisa sebagai pribadi yang sangat luar biasa. Di usiannya yang masih belia namun ia memiliki hati emas. Yang selalu mengerti keadaan orang, penyabar dan selalu menerima keadaan dengan rasa syukur.
Sejalan dengan perkembangan cerita. Beberapa tokoh lain mulai dilibatkan pengarang. Data (2) memperlihatkan keterlibatan tokoh Delisa dengan kakak-kakaknya dan ibunya. Disana masih terdapat kemencolokan sifat Delisa yang kekanak-kanakan. (3) pengarang mengisahkan sikap Delisa yang mengejutkan umminya karena ia mengatakan sesuatu yang belum tentu terfikirkan oleh anak yang seusianya.
Berdasarkan data (1), (2), dan (3) terlihat penarang selalu melibatkan tokoh Delisa dalam cerita.sehingga dapat di simpulkan frekuensi kemunculannya lebih banyak jika dibandingkan dengan tokoh lain. Konflik-konflik yang terjadi dalam cerita , tidak lepas dari keterlibatan Delisa. Hal ini terlihat pada data (4). Tokoh Delisa memang selalu muncul dan dikenal banyak orang karena keramahannya dan sifat sosialisnya.
Berdasarkan analisis tersebut dapat di simpulkan bahwa tokoh utama novel Hafalan Shalat Delisa adalah Delisa. Kesimpulan ini sangat beralasan karena tokoh Delisa lebih sering muncul terlihat dalam jalinan peristiwa. Selain itu tokoh Delisajuga sering di beri komentar dan di bicaraka dalam cerita.
Pembagian tokoh berdasarkan wataknya dalam cerita
Pelaku yang protagonis dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye.
Pelaku protagonis sebagaimana adalah pelaku yang memiliki watak yang baik dan terpuji sehingga di senangi pembaca. Untuk mengetahui pelaku protagonis dalam novel mahligai diatas pasir karya mira W. berikut
Pelaku protagonis sebagaimana adalah pelaku yang memiliki yang baik dan terpuji sehingga di senangi pembaca. Untuk mengetahui pelaku protagonis dalam novel tersebut, berikut ini peneliti kutipkan beberapa data:
Data (1)
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Data (2)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Tokoh Kak Sophi adalah salah satu dokter sukarelawan yang mengobati delisa saat sakit. Dokter sophi amat sayang dengan delisa.
Dengan karakter ummi yang sahaja dan kak aisyah yang pencemburu dan tapi penyayang, kak zahra yang pendiam juga kak Fatimah yang dewasa dan tak ketiggalan tokoh abi yang menjadi pengayom keluarga. Berdasarkan beberapa data yang telah di analisis tersebut dapat di simpulkan bahwa tokoh protagonist dalam novel hafalan shalat delisa adalah abi, ummi, kak aisyah, kak Fatimah dan kak Zahra juga dokte shophi. Kesimpulan ini di dasarkan atas dasar watak dan prilaku yang yang di miliki oleh tokoh yang sesuai dengan karakteristik tokoh protagonist. mereka sangat membantu dan mendukung apa yang di cita-citakan tokoh Delisa sampai terwujud . scara singkat dapat dikatakan bahwa gambaran prilaku tokoh mereka bertiga patut di banggakan dan di puji.
Pelaku yang antagonis dalam novel hafalan sholat delisa ini tidak ada, karena dari awala hingga akhir semua tokoh yang berwatak baik. Karena novel ini adalah menceritakan sesuatu yang nyata.
Macam-macam penokohan
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui tuturan pengarang.
Penokohan semacam ini pada dasarnya sering di jumapai dalam karya sastra. Rupa atau pribadi tokoh di deskripsikan oleh pengarang secara langsung. Pengenalan terhadap tokoh dapat dengan mudah di lakukan oleh pembaca tanpa melalui proses berfikir yang mendalam.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang penokohan ini, peneliti kutipkan beberapa data yang di ambil dari novel Hafalan Shalat Delisa.
Delisa sibungsu, berwajahpaling menggemaskan. Ia sungguh tak terlihat seperti anak Lhok Nga lainnya. Beda sekali dengan kakak-kakaknya. Rambut delisa ikal berwarna. Kulitnya putih kemerah-merahan bersih. Matanya hijau. Delisa terlihat seperti anak-keturunan. Meskipun itu tidak aneh, ummi delisa memang keturunan tuki-spanyol. Mungkin itu salah satu gen setelah terpendam begitu lama akhirnya menurun ke delisa.
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
Keadaan maupun rupa tokoh Delisa deskripsikan secara rinci oleh pengarang. Ivan seorang anak yang berbeda dendan saudara-saudaranya, dia berambut ikal dan bermat hijau berkulit puti kemerah-merahan. Sedangkan ummilah yang membuat delisa menjadi seperti itu. Berbeda. Itu semua karena ummi yang masih mempunyai keturunan turki spanyol. Meski keturunan itu jauh dari kakeknya yang terdahulu.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui lingkungan kehidupannya
Watak atau pribadi tokoh dalam cerita dapat juga di kenali melalui deskripsi lingkungan tempat tinggal tokoh. Lingkungan sekitar tokoh yang kotor,tidak teratur, dapat meberi kesan tertentu terhadap pribadi tokoh di dalamnya. Demikian juga sebaliknya, lingkungan yang asri, teratur, rapi, akan mencerminkan pelaku dengan pribadi yang lain. Penggambaran dengan cara tersebut, dapat di amamati dalam kutipan berikut:
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
Dari data di atas tokoh aisyah telah tergambarkan denhgan jelas bahwa ia adalahsaudara kembar zahara yang mempunyai kepribadian yang bertolak belakang dengannya. Sedangkan si sulung Fatimah merupakan pribadi yang sangat dewasa dan suka membantu ibunya saat kesulitan.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui prilakunya
Prilaku atau perbuatan yang di lakukan oleh tokoh cerita dapat member gambaran kepada pembanca tentang watak atau prilakunya. Cara ini sering di lakukan pengarang untuk mendiskripsikan watak tokoh atau pelaku yang di kehendakinya.
Delisa sibungsu, berwajahpaling menggemaskan. Ia sungguh tak terlihat seperti anak Lhok Nga lainnya. Beda sekali dengan kakak-kakaknya. Rambut delisa ikal berwarna. Kulitnya putih kemerah-merahan bersih. Matanya hijau. Delisa terlihat seperti anak-keturunan. Meskipun itu tidak aneh, ummi delisa memang keturunan tuki-spanyol. Mungkin itu salah satu gen setelah terpendam begitu lama akhirnya menurun ke delisa.
Cut aisyah dan cut zahra meski kembar benar-benar bertabiat bagai bumi dan langit. Yang satunya jahilnya minta ampun dan yang satu pendiamnya minta ampun. Tetapi mereka anak-anak yang baik dan penurut. Anak-anak yang cerdas.
Fatimah tipikal anak sulung yang bisa di andalkan. Umurnya 16 tahun. Meski masih kelas satu MA, fatimah bisa menggatikan peran ummi dengan baik. Juga patner ummi jika abi tidak ada dirumah, seperti sekarang menjaga adik-adiknya. (HSD: 07)
”Buat kak Sophi!”
Sophi tertegun. Ia mengerti sekarang. Gadis dihadapannya ternyata hendak berbagi. Sophi menelan ludah. Tersenyum kaku menerima potongan cokelat itu. Ya Allah bahkan Delisa disituasi menyedihkan ini, reflex membagi begitu saja potongan cokelatnya... tulus berbagi. (HSD:124)
Delisa dengan bangga memamerkan kalung itu (setelah membujuk ummi habis-habisan agar ia bisa memperlihatkan kalung itu kepada kakak-kakaknya. Kalung itu biasa saja sebenarnya. Kalung emas dua gram. Sama seperti milik fatimah, zahra juga aisyah. Yang membuatnya berbeda. Karena kalung itu diberikan gantungan huruf. Huruf D. (HSD:21)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Sikap dan perbuatan abi sangatlah berpengaruh bagi delisa untuk sekarang ini. Karena delisa tak mempunya siapa-siapa lagi kecuali abi seuasai gelombang tsunami yang menghempas kota Lhok Nga. Jika abi sedih maka delisa juga ikut sedih. Kini abi sedih dan sedang merindukan putri-putrinya. Abi juga merindukan ummi sosok wanita yang solihah dan selalu menjaga dirinya untuknya juga mengayomi putrinya disaat ia sedang kerja. Putrinya yang mempunyai kepribadian yang berbeda juga bentuk kelebihan maupun kekurangannya.
Penggambaran rupa, watak atau pribadi pelaku melalui bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri.
Kadang-kadang seorang pengarang melukiskan watak atau pribadi melalui monolog tokoh yang bersangkutan. Tokoh atau pelaku cerita menceritakan keadaan dirinya kepada pembaca. Dalam novel ini hampir tidak ada data yang menunjukkan pengenalan tokoh dengan cara membicarakan diri sendiri. Namun ia mengenalkan dirinya dengan pembicaraan atau pernyataan yang di nilai oleh tokoh lain. Jadi pengembangan rupa, watak atau pribadi pelaku melalui jalan diungkapkan oleh tokoh lain.
Cara berfikir seorang tokoh dalam menghadapi masalah serta pemecahannya, dapat dipergunakan untuk mengenali watak atau prilakunya. Sebagaimana layaknya manusia, setiap tokoh cerita memiliki jalan pikiran yang berbeda-beda. Data berikut ini dapat di amati dan di analisis untuk mengenali watak tokoh berdasarkan jalan pikirannya.
”in-na sholati wanusuki wamahyaya wa mama...” delisa kesulitan melanjutklan hafaln bacaan shalatnya. Delisa terpejam. Tangannyya menjawil-jawil rambut ikalnya..” wama-ma- wama- wamaa...” ”wa macet nih yee..!”aisyah yang sedang bermain kgundu bersama aisyah tertawa cekikikan. (HSD:13)
”Ustad, Delisa sudah melakukan apa yang ustad bilang dua hari yang lalu..”
”yang mana?” ustad Rahman bertanya sambilmenghapus papan tulis. Lupa!
”yang bilang ke ummi! Kan ustad yang bilang: ’nah coba kalian katakan kepada ummi masing-masing. Nanti kalau umminya sampai menangis, ustad beri hadiah!” Delisa persisi menirukan suara ustad Rahman waktu itu. Amat menggemaskan caranya meniru.
Ustad rahman tertawa. dia ingat sekarang. Soal kata-kata : aku mencintai ummi karena Allah. Dia memang bilang itu dua hari yang lalu. Menyuruh murid TPAnya bilang seperti itu kepada umminya masing-masing. Itu sunnah rosul. Kalau kalian bilang kepada seseorang yang kalian sayangi karena Allah.
”bahkan kak fatimah, kak zahra, dan kak aisyah juga ikut menangis..” delisa nyengir m,elaporkan.
Berdasarkan dialog antara tokoh Delisa dan Ustad rahman. Delisa mengenalkan dirinya bahwa dia selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh gurunya . delisa juga mem[unyai kebiasaan bertanya dan suka mempunyai kebiasaan memainkan rambut kritingnya jika ia merasa lupa denga sesuatu.
Pengembangan rupa, watak atau pribadi pelaku melalui pembicaraan tokoh tentang dia.
Keterlibatan beberapa tokoh dalam cerita, dapat di manfaatkan oleh pengarang untuk mendeskripsikan watak salah satu tokoh. Dialog yang terjadi di antara beberapa tokoh, dapat memberikan informasi watak salah satu tokoh. Hal semacam ini dapat di amati dalam kutipan berikut:
Data(1)
Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain. Delisa memang anak yang banyak bertanya. Meskipun sering bandel, delisa memiliki pola pikir yang berbeda dengan anak-anak yang seumurannya. Membuat orang dewasa disekitarnya terkadang bernya ”kok bisa ya?”.
Delisa suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail dengan baik. Dan pandai sekali menghubungkan sesuatu__entah itu berbagai kejadian, atau hanyamendengar kalimat orang-orang yang didengarnya. Cara berpikir delisa amat lateral. Dia berpikir yang berbeda. (HSD:11)
Data(2)
sophi kembali. membawa selembar kertas isian formulir rumah sakit. Menyerahkannya dengan pensil dan alas papan. Delisa menatapnya. Memegang kertas itu. Ia tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi delisa pernah melihat formulir ini. I pernah melihat kak Fatimah mengisinya.
“ini namanya kertas pendaftaran. Kak Fatimah mau ikut PMR. kakak Fatimah mengisikan nama.. alamat… apa saja tentang kak Fatimah!” kak Fatimah menjelaskan waktu delis bertanya.
“Ngapain pula kamu Tanya-tanya.. paling juga gak ngerti kak aisyah jelasin ini!” itu waktu aisyah pulang membawa formulir tari samannya, seperti biasa ribyt dengan delisa. Tetapi kak Zahra berhati baik menjelaskannya. Lebih detail disbanding penjelasan kak Fatimah.
Delisa menatap kertas itu, beralih memandang sophi. Sophi mengangguk. Membantu delisa memegang pensilnya dengan tangan kirinya (delisa memang kidal menulisnya; meski normal mengerjakan pekerjaan lainnya).
“isilah sayang”.
Delisa tak tahu apa arti kolom disebelah kirinya. Name? birthday? Sex? Address? Ia hanya ingat ucapan kak Fatimah dan kak Zahra. Maka ia sembarang mengisinya. Menulis namanya, menulis alamat mereka, menulis nama SDnya, menulis nama ummi dan abinya, menulis nama bu guru nur manulis nama ustad rahman, menulis nama tiur, bahkan menulis warna kesukaannya. Menulis apa saja, hingga semua kolom pertanyaan penuh sampai bawah.
Sekacau apapun urutan tulisan delisa. Semua informasi itu berguna sekali. Sophi tersenyu senang melihatnya. Segera siang itu juga, semua data itu bergabung dengan ribuan korban selamat lainnya dipusat informasi banda aceh. (HSD: 125-127)
Jika kita tinjau dari penggabungan data diatas kita dapat mengetahui bahwa hasil percakapan antara delisa dan dokter sophi menunjukkan bahwa doktersophi berkepribadian sabar dan penyayang. Sedangkan delisa sendiri adalah sosok anak yang cerdas yang mempunyai daya ingat yang tinggi. Dia menyayangi orang disekelilingnya. Dia tak pernah melupakan suatu apaun bila itu sudah ia lalui.
Penggambarang rupa, watak atau pribadi pelaku melalui reaksi yang di berikan tokor-tokoh lain terhadapnya.
Cara semacam ini juga di pakai oleh pengarang untuk mendeskripsikan watak tokohnya. Hal ini dapat di amati dalam kutipan beriut:
”Ustad, Delisa sudah melakukan apa yang ustad bilang dua hari yang lalu..”
”yang mana?” ustad Rahman bertanya sambilmenghapus papan tulis. Lupa!
”yang bilang ke ummi! Kan ustad yang bilang: ’nah coba kalian katakan kepada ummi masing-masing. Nanti kalau umminya sampai menangis, ustad beri hadiah!” Delisa persisi menirukan suara ustad Rahman waktu itu. Amat menggemaskan caranya meniru.
Ustad rahman tertawa. dia ingat sekarang. Soal kata-kata : aku mencintai ummi karena Allah. Dia memang bilang itu dua hari yang lalu. Menyuruh murid TPAnya bilang seperti itu kepada umminya masing-masing. Itu sunnah rosul. Kalau kalian bilang kepada seseorang yang kalian sayangi karena Allah.
”bahkan kak fatimah, kak zahra, dan kak aisyah juga ikut menangis..” delisa nyengir melaporkan.
Lihatlah, gadis kecil itu (Delisa) menderita lebih banyak, tetapi wajahnya teramat teduh. gadis kecil ini sungguh menderita lebih banyak dibandingkan dirinya, namun wajahnya bercahaya oleh penerimaan. pengertian itu datang kepada prajurit Smith. Pemahaman yang indah!
Berdasar dialog antara tokoh delisa dan ustad rahman, delisa menunjukkan bahwa dirinya akan melakukan apapun yang dianjurkan gurunya. Buktinya ia mempraktekkan perkataan ustad rahman dan menirukannya dengan apik hingga membuat ustad rahman terpingkal.
Tak hanya itu banyak orang yang menagumi delisa. Dia sungguh luar biasa. Meski ia mendapat musibah yang begitu dahsyat namun ia selalu berbesar hati. Entah darimana sikap itu. Delisa seolah tumbuh menjadi orang dewasa bahkan bsa mengalahkan abinya yang masih terkungkung dalam buaian kesedihan. Dan delisa juga mampu menyadarkan salah satu prajurit untuk menjadi muallaf karena keajaiban yang ia dapatkan.
Macam-macam latar atau seting
Novel Hafalan Shalat Delisa karya tere liye. pada dasarnya menggunakan beberapa macam atau setting. Latar atau seting tersebut di pakai untuk melatari peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam cerita. Selain latar fisikal dan latar social, pengarang juga menampilkan latar psikologi. Untuk membuktikan adanya latar-latar yang di maksud, peneliti akan menampilkan beberapa data berikut ini:
Latar fisikal
Latar fisikal adalah semua benda fisik yang melatari semua peristiwa dala cerita. Benda-benda yang dapat di kategorikan sebagai settinga fisikal di antaranya: suatu daerah, bangunan-bangunan fisik, serta benda-benda atau alat-alat yang ada di dalamnya. Untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut tentang latar fisikal ini, dapat di amati pada data berikut:
Empat hari empat malam, delisa belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Tetp berbaring dan tak bergerak diatas ranjang. Hanya suara beep lemah peralatn medis disekitarnya yang menunjukkan delisa masih bernafas dengan baik. Masih ada kehidupan disana.
Abi sekarang melangkah patah-patah menuju lokasi bekas rumah mereka. Abi tiba di lhok nga beberapa menit lalu. setelah membujuk kesana kemari akhirnya bisa menumpang holikopter tentara tadi pagi di banda aceh.
Tiba dilokasi bekas rumah mereka hanya tinggal pondasi setinggi mata kaki yang tersisa.... (HDS: 106)
Keluarga abi usman memang bahagia. Apalagi yang kurang? Empat anak salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik bertetangga dan bersahaja. Apa adanya mereka tinggal di rumah yang sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok nga memang tepat ditubir pantai. (HSD: 09)
Pengarang melukiskan latar fisik cerita melalui pendiskripsiannya. Dimulai bahwasannya latar yang ada yaitu dirumah sakit untuk merawat delisa ketika ia sakit setelah terseret ombak maut tsunami beberapa minggu lalu dan rumah delisa sendiri yang tepatnnya berada di Lhok Nga. Didalam rumah yang sederhana disanalah tempat mereka berteduh dan beraktifitas.
Latar social
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa latar social dalam cerita fiksi mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok social dan sikapnya , adat kebiasaan, cara hidup maupun bahasa yang melatari peristiwa. Demikian halnya dengan novel mahligai di atas pasir. Pengarang menggunakan latar social dalam proses penciptaan jalinan peristiwa. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas keterlibatan latar social dalam novel, berikut ini peneliti tampilkan beberapa bukti yang di kutip dari novel yag bersangkutan:
Keluarga abi usman memang bahagia. Apalagi yang kurang? Empat anak salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik bertetangga dan bersahaja. Apa adanya mereka tinggal di rumah yang sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok nga memang tepat ditubir pantai. (HSD: 09)
Bukankah sudah dikatakan sebelumnya kalua delisa memang ngetop di lhok nga. Kebiasaan berkaliling dari tenda ketenda lain membuatnya dikenal. Apalagi melihat tampangnya yang amat berbeda, semua orang seperti berkepantingan untuk menjenguknya. ”kabar sakitnya delisa menjadi headline dikota lhok nga, usman.” itu bercandaan wak burhan. Delisa nyengir tidak tahu apa maksudnya. (hsd: 223)
Data tersebut menggambarkan seting sosial berua beberapa keterangan tentang beberapa perokohan yaitu menjelaskan keluarga abi usman memang sangat bersahaja dan bertetangga.
Dan yang paling berkesan adalah putri bungsunya yang mempunya kebiasaan berkeliling dari tenda ke tenda hanya untuk menjenguk dan sekedar bermain dengan para korban. Kebiasaanya bersosial seperti itu membuatnya terkenal dimana-mana.
Latar psikologis
Latar psikologi adalah lingkungan serta benda-benda yang ada di dalamnya yang mampu menuansakan makna tertentu dan mampu mengajak emosi pembaca. Berkaitan dengan hal itersebut, berikut ini peneliti sajikan beberapa data yang di kutip dari novel mahligai di atas pasir.
Data
Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain. Delisa memang anak yang banyak bertanya. Meskipun sering bandel, delisa memiliki pola pikir yang berbeda dengan anak-anak yang seumurannya. Membuat orang dewasa disekitarnya terkadang bernya ”kok bisa ya?”.
Delisa suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail dengan baik. Dan pandai sekali menghubungkan sesuatu__entah itu berbagai kejadian, atau hanyamendengar kalimat orang-orang yang didengarnya. Cara berpikir delisa amat lateral. Dia berpikir yang berbeda. (HSD:11)
Abi sujud tertelungkup diatas sajadah dengan penuh pengaduan, abi teringat ummi yang menjadi istri salihah. Abi juga teringat ketika dulu sering berjama’ah dengan Aisyah, fatimah dan Zahra. Abi rindu dengan kejahilan aisyah. Senakal apaun ia abi tetap menyayanginya. Abi juga rindu fatimah yang selau mampu menjawab pertanyaan sulungnya dengan mengusapkan tangannya diatas krudung sulungnya. Dan zahra anak yang pendiam namun selalu mepunyai ide kreatif yang menakjubkan. Abi rindu semua. Tapi sekarang abi harus menjadi ibu, bapak dan kakak delisa.(HSD: 178)
Peristiwa yang menggetirkan hati usman membuat ia lemah dan tetunduk kepada tuhannya. Menhgapa ia mengalami hal yang seperti ini. Ia merasa sedih dan mengadu jika ia sekarang harus berperan menjadi ibu bapak dan kakak bagi delisa.
Analisis Novel Hafalan Shalat Delisa
Sudut pandang adalah tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu. Sudut pandang ini tidak diartikan sebagai penglihatan atas suatu barang dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu posisi tertentu. (Prof. DR. Gorys Keraf).
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Sudut pandang merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya. Untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca. (Boot, dalam Stevick, 1967:89).
Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan yang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
MACAM-MACAM SUDUT PANDANG
Bennison Gray membedakan pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga.
Pencerita orang pertama (akuan).
Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Ini disebut juga gaya penceritaan akuan.Gaya penceritaan akuan dibedakan menjadi dua, yaitu
Pencerita akuan sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Ustad aku sudah melakukan apa yang ustad bialang dua hari yang lau, aku sudah menagatakan aku cinta ummy karena Allah.
Aku harus bisa karena aku bisa mendapatkan ponten sembilan untuk pelajaran matematika ketika di ajar bu nur dulu.
”ummi aku di ganggu kak aisyah lagi..”
Pencerita akuan tak sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Aku harus bisa karena aku bisa mendapatkan ponten sembilan untuk pelajaran matematika ketika di ajar bu nur dulu.
Aku sudah siap dan tidak terbolak – balik lagi dalam membaa do’a.
”Bukannya aku tidak mau ayah tapi aku sudah kenyang”
Pencerita orang ketiga (diaan).
Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencnerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu
Pencerita diaan serba tahu, yaitu pencerita diaan yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
Dia tak dapat membendung air mata itu, setelah anaknya mengatakan kalimat yang menakjubkan.
Dia dia memang sosok yang amat sangat berbeda dari teman-temannya. Dia suka bermain sepak bola dan marah bila hanya dijadikan sebagai kipper,
Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.
”...dia hanya ingin mengatakan kalau dia cinta ummi dan abi karena Allah”.
Dia seperti kehilangan kesadaran. Dan dia sudah satu minggu tidak makan dan minum. Di tehempas hujan dan tersengat matahari namun dia masih bisa bertahan hidup.
Mengapa dia harus pergi sepulang sekolah?
”Dia ingin melihat kesibukan-kesibukan di sanggar dan latihan-latihan sebelumnya. (HSD: 284).
Point of view berhubungan dengan siapakah yang menceritakan kisah dalam novel. Cara yang dipilih oleh pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Hal ini disebabkan, watak dan pribadi si pencerita (pengarang) akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. Setiap orang punya pandangan hidup, cara berfikir, kepercayaan, maupun sudut emosi yang berbeda-beda. Penentuan pengarang tentang soal siapa yang akan menceritakan kisah akan menentukan bagaimana sebuah cerpen bisa terwujud. Sudut pandang pada intinya adalah visi pengarang. Sudut pandang yang diambil pengarang tersebut berguna untuk melihat suatu kejadian cerita. Tentunya harus dibedakan antara pandangan pengarang sebagai pribadi dengan teknis dia bercerita dalam cerpen.
Hal ini menyangkut bagaimana pandangan pribadi pengarang akan bisa diungkapkan sebaik-baiknya sehingga pembaca dapat menikmatinya. Untuk ini, ia harus memilih karakter mana dalam cerpennya yang disuruh bercerita. Dalam hal ini sudut pandang memegang peranan penting akan kejadian-kejadian yang akan disajikan dalam cerpen, menyangkut masalah ke mana pembaca akan dibawa, menyangkut masalah kesadaran siapa yang dipaparkan.
Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Hubungan sudut pandang dengan tokoh
1. Watak tokoh dapat diketahui dari sudut pandang
2. Untuk mengetahui latar belakang sosial budaya
3. Bisa membuat tokoh antagonis dan protagonist
Hubungan latar dengan sudut pandang
Melalui sudut pandang kita bisa mengetahui latar atau suasana apa yang akan digunakan oleh pengarang.
Analisis Gaya Bahasa Hafalan Shalat Delisa
Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya.
Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perulangan, pertentangan, perbandingan, dan pertautan.
Gaya merupakan cara pengungkapan pengarang dalam menyampaikan gagasan dengan menggunakan media bahasa yang indah atau bagaimana pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan dalam hasil ciptaannya. Gaya bahasa adalah suatu pengaturan kata-kata dan kalimat-kalimat yang dapat mengekspresikan ide, gagasan, dan perasaan serta pengalaman batin pengarang.
Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri atas klimaks, antiklimaks, antitesis dan repetisi, sedangkan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dibagi menjadi dua yaitu 1) gaya bahasa retoris, 2) gaya bahasa kiasan, yang terdiri dari simile, metafora, personifikasi, sarkasme dan Inuendo. Dari kedua gaya bahasa tersebut, gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna lebih dominan di gunakan. Gaya bahasa persamaan tampaknya oleh pengarang di maksudkan untuk memperindah dan untuk lebih menekankan makna dalam kaitannya dengan ekspresi? menggugah emosi pembaca? demikian pula gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat relatif sedikit di gunakan. Gaya bahasa tersebut untuk menjelaskan ide atau inti dari cerita dalam karangannya.
Dalam penggunaan gaya bahasa, pengarang tidak menggunakan secara berlebihan, artinya gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang ini bersifat sedikit. Tetapi dalam penggunaan gaya bahasa yang sedikit ini, pengarang mampu memunculkan suatu karya sastra yang mudah dinikmati tanpa harus menggunakan pemahaman lebih dalam. Analisis gaya bahasa ini lebih banyak menggunakan bahasa sehari-hari, karena dalam cerpen ini yang menjadi obyek si pengarang dalam karyanya adalah kehidupan sosial atau kehidupan masyarakat tertentu diwilayah tertentu.
Jangan salah, meski masih gelap seperti ini, kehidupan telah dimulai. (HSD: 16)
Kata-kata delisa ibarat ombak yang mendesau hati ummi dan kakak-kakaknya. Wajah polos yang mempunyai kalimat yang indah luar biasa. (HSD :55)
Dia memang ibarat binatang buas dalam sebuah sirkus. Jika mendapat kesempatan, binatang buas itu akan memperlihatkan sifat aslinya...(HSD. 216).
Siang malam menghantuinya dimanapun dia berada...(HSD: 26)
Ditatapnya foto keluarga Sophi dengan kerinduan getir….(HSD:134)
Pada kutipan di atas merupakan gaya bahasa yang digunakan pengarang yang tak lebig gaya bahasa yang bersifat smile, smile adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat langsung dan implisit dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keimplisitan.
SINOPSIS
Buku yang indah ditulis dalam kesadaran ibadah, buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian mencintai anugerah dan musibah, mencintai indahnya ibadah.
Novel ini disajikan dengan gaya bahasa yang sederhana namun sangat menyentuh jiwa. Cerita tentang seorang gadis kecil berumur enam tahun yang mencoba menghafal bacaan shalat dengan fashih. Dalam ke inginannya yang melambung tinggi agar hafal dan lulus dari hafalannya ia menggunakan berbagai cara untuk mempermudah hafalannya. Tak punya lelah untuk bertanya kemari kepada setiap mereka yang dewasa dan lebih mengetahui tentang bacaan shalat.
Hingga suatu ketika ia berangkat untuk tes ujian kali ini ia menghadap guru dan berniat untuk shalat yang pertama kalinya. Dengan mengucap takbirotul ikhram tiba-tiba gelombang tsunami menyapu bersih kota banda aceh.
Smua keluarga delisa hanyut tak terselamatkan kecuali delisa yang selama satu minggu terperangkap didalam semak belukar. Tak ada yang menolongnya. Ia takmakan dan tak minum, tapi masih bisa bertahan hidup. Setelah seminggu ada salah satu perajurt yang hendak mengefakuasi korban tsunami. Dan disemak belukar itu ia melihat sem,buratan cahaya. Ketika ia mendekati ternyata tubuh gadis kecil yang terperangkap dan masih hidup. Dialah delisa yang masih ingin mengerjakan shalat dalam keadaan yang memprihatinkan. Namun hafalan delisa kini telah lenyap. Ia tak hafal sama sekali bacaan-bacaan itu kecuali takbirotul ikhrom. Lantas apakah delisa m,asih hidup? Dan apakah ingatan hafalannya akan kembali? Baca Novel Hafalan Shalat Delisa, key!.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV Sinar Baru Algesindo
Nurgiantoro, burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta. Jakarta: PT University Press
Wellek, rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia
Kamis, 03 Juni 2010
AKU TAMPAK LEBIH MANIS
DENGAN SENYUMAN
Tahukah engkau wahai sahabatku? Bahwa senyum adalah terapi paling ideal untuk kecantikan. Kamu akan tampak lebih manis dengan sedikit tarikan tulus dari bibirmu. Senyum yang tulus merupakan “make up” paling ampuh. Kita tidak perlu membeli produk mahal yang bisa menguras kantong kita dan membuat kita terpaksa puasa berbulan-bulan demi membeli alat kecantikan yang tak jelas khasiatnya. Dalam penelitian menyatakan bahwa senyum itu membuat otot wajah lebih elastis dan awet muda. Kenapa? Karena waktu ketika kita senyum atau tertawa tubuh ini akan mengeluarkan hormone endorphin. Hormone semacam “morfin” yang bisa membuat tubuh rileks dan tenang. Bukan itu saja ternyata tersenyum juga membuat orang tidak gampang sakit. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu ilmuwan asal barat mengatakan bahwa hasil penelitian terhadap orang-orang yang tersenyum dan tertawa adalah system imunitas atau kekebalan tubuhnya meningkat hingga 40%. Senyum juga menjadi poin terpenting yang tidak boleh diremehkan dalam menjalin suatu relasi persahabatan yang sukses.
Tersenyum atau tertawa yang wajar itu laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat besar sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku”.
Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah “ janganlah engkau banyak tetawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga bahwa. “ senyummu didepan saudaramu adalah sedekah”.
Orang arab senang menuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut merekam perangai yang demikian itu merupakan tanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.
Wajah nan berseri suka memberi
Dan, tentu bersuka cita saat dipinta
Pada dasarnya Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak menegnal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langah yang terarah.
Abu Tamam mengatakan,
“Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku,
Ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan,
Canda kadang menjadi serius,
Namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang”
Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang racau balau, dan,
{Sesudah itu ia bermuka masam dan merengut.} (QS. Al-Muddatsir: 22)
Dalam Faidhul Khatir, Ahmad Amin menjelaskan demikian. “orang yang mampu tersenyum dalam menjalani hiidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain”.
Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah tersenyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu kesulitan; melihatnya lalu tersenyum, menyiasati lalu tersenyum, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau. Sekali ia menjumpai suatu kesulitan ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai suatu yang amat sangat besar yang akan memberatkannya. Dan yang seperti itulah yang acapkali membuat semangat orang semakin menurun dan asanya berkurang. Bahkan tak jarang orang yang seperti ini berdalih dengan kata-kata “ seandainya…” “kalau saja…” dan “seharusnya..” orang seperti ini sangatlah nista. Bukan zamannya yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya. Bagaimana tidak, iamenginginkan kebehasilan dalam menjalani kehidupan ini, tetapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat orang yang hendak berjalan tetapi selau dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya ia hanya menuggu langit menurunkan emsnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.
Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata “Langit selaluberduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”
Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda takkan pernah mengembalikannya”
Orang berkata “ Langitku yang ada didalam jiwa telah membuatku merana dan berduka. Janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya.bagaimana mungkin jiwaku sanggup menegmbangkan senyum manisnya
Maka akupun berkata, “ tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya…
Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selau berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut dan pembawaan yang tidak kasar. Nah,,,senyuuuum… say ciiiiiis guys!! Tersenyumlah untuk mengahadapi masa depan!.
Buah Tangan :
Bardul Yad S.M el_Mooja
{Santriwati Pon-Pes Darussalam Sengon Jombang}
artikel rindu
Eitch…!!
Hati-Hati Dengan Rindu!
Dengan apakah kau bandingkan pertemuan kita
Kasihku…
Dengan samar sepoi pada masa sempurna
Meningkat naik, setelah menghalau panas payah terik
Hatiku terang menerima katamu
Bagai bintang memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu
Bagai sedap malam menyirak kelopak
Dari penggalan syair diatas, cukup indah bila kita rasakan, rasa rindu seseorang terhadap kekasihnya. Kenikmatan cita rasa cinta terkuak dalam satu kata yaitu RINDU. Kenapa rindu selalu berkaitan dengan kata Cinta? dimana ada rindu pasti cinta ikut terselubung didalamnya. Namun apakah salah bila manusia mempunyai rasa rindu atau cinta yang berlebihan?
Jangan pernah merindukan sesuatu sacara berlebihan. Karena yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam. Seorang muslim akan merasa bahagia ketika ia dapat menjauhi keluhan, kesedihan dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mebngatasi keterasingan, keterputusan, dan keterpisahan yang seperti halnya dikeluhkan oleh para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah tanda dari kahampaan hati.
“Tidakkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Rabb-nya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya”.
(QS. Al-Jâtsiyah: 23)
Seorang asal Andalusia menyombongkan dirinya karena bisa merasakan rasa suka yang melebihi batas.
sebalum aku, orang mengeluh berat berpisah
dan ketakutan muncul pada yang mati dan yang hidup hidup
jika rusuk-rusukku menghimpun
maka aku tidak akn lagi mendengar dan tidak pula melihat
Bila saja tulang-tulangnya berhimpun ketakwaan, dzikir, kesadaran rohani dan ilahiyah, maka kebenaran akan bisa dicapai. Disamping itu, bukti akan menjadi semakin jelas dan kebenarannya akan terlihat. Maka dari itu, sah-sah saja bagi kalian yang mempunyai rasa rindu dan cinta yang besar asalkan itu untuk Tuhanmu. Ada juga yang menanyakan bukannya rasa rindu dan cinta kepada sesama merupakan Rahmatullah? Memang iya, tapi rasa itu tidak boleh kita umbar. Akan lebih baik jika kita mencintai dan merindukan seseorang karena Allah dank arena dia mencintai Allah dan menjadi jalan untuk menghantarkan kita pada jalannya mencintai Allah.
Ibnu Qoyyim telah memberikan terapi sangat manjur tentang masalah ini dalam bukunya Ad dâ’wad Dawâ’ atau Al Jawâb asy Syâfi’an man sa’alan ‘anid Dawâ’ asy syâfi. Buku ini sangat terkenal, anda bisa merujuk pada dua buku tersebut.
Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya. Diantaranya,
1. hati yang tak terisi rasa cinta, rasa syukur, dzikir, dan ibadah kepada Allah.
2. membiarkan mata jalang. Mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan kepada kesdihan dan keresahan.
(Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”)
(QS. An-nûr.30)
Jika kita amati ayat diatas, kenapa laki-laki yang diperintahkan untuk menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka? Padahal pada zaman sekarang, justru wanita yang selalu mengumbar aurat dan kemaluan mereka. Dengan realita yang semakin pelik ini, siapakah yang patut kita salahkan?. Sebenarnya dalam hal ini memang seharusnya yang laki-lakilah yang memulai, kalau saja mereka dapat menjaga dan menahan pandangan mereka, perempuan tidak akan berprilaku dan berpakaian diluar koridor syari’at. Karena rasa bangga diperhatikan oleh laki-laki jika berpakaian sexy dan laki-lakipun suka akan hal itu dan selalu memuji perempuan yang tampak anggun dengan balutan yang minim maka timbullah rasa yang demikian. Andai saja kaum laki-laki dapat menjaga pandangan mereka pastilah wanita akan merasa malu akan penyelewengan pemahaman mereka akan suatu keanggunan wanita sholihah yang sebenarnya.
Rosulullah juga pernah bersabda, “pandangan (mata) itu dalah satu dari sekian banyak anak panah iblis”.
Jika kau liarkan matamu pada semua mata,
Maka semua pemandangan akan membuatmu lelah.
Kau lihat pemandangan, tapi tak seluruhnya mempu kau lihat
Dan kau tatap
3. Meremehkan ibadah, dzikir, do’a dan shalat nafilah
(Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar).
(Al- Ankabût: 45)
Adapun oba-obat untuk menghindari keresahan hati yang berlebihan diantaranya:
1. berusaha untuk selalu berada di pintu-pintu ibadah dan memohon kesembuhan kepada yang Maha Agung.
2. merendahkan pandangan dan menjaga kemaluan
3. menjauhkan hati dari hal-hal yang mengikat dan berusaha melupakannya.
4. menyibukkan diri dengan amal sholeh dan berguna
5. menikah secara syar’i.
Rosulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang sudah mampu untuk menikah, hendaklah menikah”. Wallahu’alam.
Buah tangan :
Bardul Yad S.M el_Mooja
(Santriwati Pon-Pes Darussalam Sengon Jombang)
Minggu, 02 Mei 2010
analisis puisi
Analisis Puisi
“ LUDAH YANG KERING”
Karya Andrinof A. Chaniago
Disusun untuk memenuhi
Tugas mata kuliah SEMANTIK
Dosen Pembina : Susi Darihastining, M.Pd

Disusun Oleh :
SITI MU’AWANAH
NIM : 086172
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2010
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah nemberikan Rahmat Taufik serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah semantik yang merupakan salah satu syarat mengikuti UAS semester III Pridi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.
Sholawatserta salam tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang yakni agama islam.
Dengan tersusunnya makalah ”Analisis Puisi LUDAH YANG KERING karya Andrinof A Chaniago” ini. Penulis berharap semoga analisis ini bisa dipelajari dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Ibu Susi Darihastining M,Pd, selaku pembimbing serta dosen pembimbing kuliah semantik
Untuk teman-teman saya yang telah memberi dorongan dan semangat kepada saya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Seperti pribahasa tiada gading yang retak yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini.begitupun dengan makalah ini. Karena ketrbatasab kemampuan penulis, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, penulis mengharap segala saran dan kritik yang membangun.
Jombang, Januari 2010
Penulis
DAFTAR ISI
HAL JUDUL ..............................................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................
PUISI ”LUDAH YANG KERING”.........................................................................
PARAFRASE.............................................................................................................
PEMBAHASAN ”ANALISIS PUISI”......................................................................
BIOGRAFI.................................................................................................................
SIMPULAN................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
LUDAH YANG KERING
Lihatlah!
Masih adakah hati yang berisi?
Ketika logika sudah berbau terasi
Ketika nurani kian tererosi...
Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
Kucing justru giat pamer gusi...
Terbuai di empuknya jok mercy
Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
Menumbuhkkan nurani yang semakin membesi
Saat rakyat butuh nasi...
Namun justru di kremasi
Ah, sudahlah!
Ini bukan demonstrasi..
Ini juga bukan mosi...
Ini hanyalah puisi...
Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
Kampus UI
24 Agustus 2007
Andrianof A Chaniago
PARAFRASE
Di dalam ranah politik yang semakin menjadi, tak ada lagi hati yang memiliki keikhlasan dalam mengarungi jabatannya sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana. Semakin hari semakin menciut pula hati para pemimpin untuk menjadi manusia yang jujur dan adil. Akal sehat telah terkalahkan oleh mahligai keindahan duniawi.
Dalam kesendiriannya, penulis puisi "Ludah Yang Kering" terbayang akan ketidak adilan seorang pejabat. Dengan keadaan ekonomi yang semakin melilit serta serba kekurangan rakyat justru menjadi korban ketidak adilan dan ketidak jujuran seorang pejabat yang semakin hilang nurani mereka bersama persaingan untuk medapatkan kedudukan atau jabatan.
Semenjak dunia politik menjadi ajang bergengsi, para pejabat sibuk dengan kegiatan mengejar kursi (kedudukan). Berkampanye sana-sini dengan mengumbar janji manis. Mereka sudah tidak mengenal lagi arti demokrasi yang dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Serakah dan tak pernah puas itulah kata-kata yang pas bagi mereka yang hobinya mengobral janji. Para birokrat berlagak sok melarang dan memberantas ketidak jujuran, namun di belakang mereka malah berkomplot dan menjadi sahabat dalam berpesta uang panas yang seharusnya diberikan kepada rakyat yang kelaparan dan telantarkan.
Politik sekarang hampa etika di balik dengan tuntutan rakyat. Bahkan ketika harga BBM naik, rakyat semakin tercekik akan kebutuhan hidup yang melunjak naik.
Tapi, bagaimanapun ini hanyalah sebidik puisi gambaran isi hati rakyat yang mulai jenuh dan lelah oleh para petinggi mereka. Sekeras apapun kita berbicara namun tak ada gunanya. Meski melalui media massa dan demonstrasi yang tak kunjung habisnya pejabat malah mentereng dengan dasi kebanggaannya. Yah inilah negara kita, miskin hati dan kaya janji. Janji para pemimpin yang tak mempedulikan kita lagi.
PEMBAHASAN
| NO | Kategori | Konsep | Indikator |
| 1. | Struktur atau berhubungan dengan sintaksis dan morfologi | a. Kalimat majemuk koordinatif (KMS) adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, setara atau sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk ini dihubungkan dengan konjungsi seperti, dan, atau, tetapi, dan namun. Kelimat majemuk setara dibagi menjadi tiga : · KMS sejalan · KMS berlawanan · KMS penunjukan b. Kalimat majemuk subordinatif (KMB) adalah kalimat ,majemuk yang hubungan antar klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satunamanya klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan, kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan subordinatif seperti, ketika, meskipun dan karena. c. Kalimat adalah · satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik/turun. · Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intinasi akhir dan terdapat klausa. · Lafal yang tersusun dari dua buah Kata/lebih yang mengandung arti sengaja serta berbhasa Arab dianggap sebagai definisi yang sudah baku. (Djuha, 1998). d. Kata depan adalah kata yang berfungsi membentuk frase preposisi | § Kalimat ini termasuk di dalam contoh KMS penunjukan yang berupa KMS berlawanan. "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!" § "Ketika logika sudah berbau terasi" § "Ketika nurani kian tererosi.." § "Ketika tikus sibuk pesta korupsi" § Kalimat perintah o "Lihatlah!" o "Ah,sudahlah !" o "Dari yang hidup namun sesungguhnya mati !" § Kalimat tanya "Masih adakah hati yang berisi ?" § "Di" menandai hubungan tempat, kejadian atau peristiwa. "Dikilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi" |

